Home » , , , » RIBUAN PENARI TAYUB MERIAHKAN BCF III DI GOA TERAWANG, BUPATI BLORA BIDIK KARISMA EVENT NUSANTARA

RIBUAN PENARI TAYUB MERIAHKAN BCF III DI GOA TERAWANG, BUPATI BLORA BIDIK KARISMA EVENT NUSANTARA

radiogagakrimangfm.com on 11 Okt 2026 | 09.43


INFOBLORA.ID
- Ribuan penari tayub memadati kawasan Goa Terawang Ecopark, Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, Sabtu (10/10/2026) sore. Mereka tampil kompak dalam gelaran Blora Culture Festival (BCF) III yang mengangkat seni tayub sebagai identitas budaya sekaligus daya tarik pariwisata daerah.

Mengusung tema “Gatra Cacana Jaya Kerta Bhumi”, festival budaya tahunan ini tidak sekadar menjadi tontonan dan hiburan bagi masyarakat. BCF 2026 juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku seni untuk melestarikan warisan leluhur, memperkenalkan potensi wisata, serta menggerakkan ekonomi kreatif di Kabupaten Blora.

Bupati Blora Dr. H. Arief Rohman, S.IP., M.Si., mengatakan seni tayub merupakan tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Blora sejak lama. Kesenian ini kerap hadir dalam berbagai hajatan masyarakat di desa-desa dan menjadi bagian penting dari identitas budaya setempat.

Karena itu, penyelenggaraan BCF diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi tersebut sekaligus mengenalkannya kepada generasi muda.

“Kita tahu bahwa seni tayub ini sudah melekat dalam kehidupan kita. Seni tradisi ini, kalau ada orang punya kerja di desa-desa, biasanya nanggap tayub. Dan sekarang alhamdulillah, para pelajar kita keren-keren semua. Sore hari ini sudah akan tampil,” kata Bupati Arief Rohman saat menyampaikan sambutan di Goa Terawang Ecopark.

Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam festival tersebut menjadi langkah positif untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap kesenian tradisional. Regenerasi pelaku seni dinilai penting agar tayub dan berbagai kesenian khas Blora tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Bupati yang akrab disapa Mas Arief itu menegaskan, BCF merupakan salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Blora dalam melestarikan kekayaan budaya daerah.

Ia berharap kebudayaan dan pariwisata dapat berkembang beriringan, sehingga kegiatan seni tidak hanya memperkuat identitas masyarakat, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi perekonomian.

“Kita berharap dengan adanya Blora Culture Festival ini menunjukkan bahwa budaya kita, pariwisata kita berjalan beriringan, dan sekaligus kita bisa menggerakkan sektor UMKM dan sektor ekonomi yang ada di Kabupaten Blora,” ungkapnya.

BIDIK KARISMA EVENT NUSANTARA

Tak berhenti pada pelestarian budaya, Pemkab Blora juga berharap Blora Culture Festival dapat memenuhi kriteria untuk masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), program Kementerian Pariwisata yang mendukung promosi berbagai event unggulan di Indonesia.

Untuk mencapai target tersebut, diperlukan persiapan matang, konsistensi penyelenggaraan, serta promosi yang berkelanjutan. Sinergi dengan pemerintah provinsi, pengelola desa wisata, pelaku seni, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi salah satu modal penting untuk meningkatkan daya tarik festival.

“Jadi butuh persiapan, konsistensi, agar promosi yang kita lakukan ini bisa kita dukung bersama-sama. Mulai kemarin juga sinergi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, ada Forum Komunikasi Desa Wisata Jawa Tengah,” jelas Mas Arief.

Ia mengapresiasi kehadiran perwakilan desa wisata dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang turut meramaikan rangkaian kegiatan BCF 2026. Pertemuan tersebut dinilai dapat memperkuat jejaring pariwisata sekaligus membuka peluang kerja sama promosi antardaerah.

“Jadi ini merupakan sinergi yang harus kita lestarikan bersama-sama. Pesan kita, monggo kita uri-uri kebudayaan kita yang sangat luar biasa. Mari kita bangun pariwisata, kesenian dan kebudayaan Blora untuk memperkuat ekonomi kreatif yang ada di Kabupaten Blora,” terangnya.

Mas Arief juga menyampaikan terima kasih kepada ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) yang menjadi sponsor utama BCF 2026, serta pihak-pihak lain yang turut mendukung terselenggaranya festival tersebut.

Melihat antusiasme peserta dan besarnya jumlah penari yang terlibat, Bupati bahkan melontarkan gagasan untuk meningkatkan skala penyelenggaraan pada tahun berikutnya.

“Ini menginspirasi untuk kita semuanya. Ini tadi saya membisiki Bu DPR RI, kalau di tahun ini, tahun ketiga, jumlahnya 1.000 penari, jadi tahun depan kalau mau ditingkatkan bisa 10.000, ini lebih bagus, tinggal anggarannya ini,” ucapnya.

Gagasan tersebut menjadi gambaran besarnya potensi BCF untuk terus berkembang sebagai agenda budaya unggulan Kabupaten Blora. Dengan dukungan berbagai pihak, festival ini diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan dan memperluas promosi seni budaya Blora ke tingkat nasional.

EMCL DORONG PELESTARIAN BUDAYA LOKAL

Perwakilan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), Syamsuar Syamsuddin, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Blora, para pelaku seni dan budaya, serta seluruh masyarakat yang terus menjaga kekayaan budaya daerah.

Menurutnya, Blora memiliki arti penting bagi EMCL, bukan hanya sebagai wilayah yang berdekatan dengan kegiatan perusahaan, tetapi juga sebagai mitra dalam mendukung pembangunan daerah.

“Kabupaten Blora mempunyai arti yang sangat penting bagi ExxonMobil Cepu Limited, sebagai tetangga sekaligus mitra untuk pembangunan, kami berkomitmen untuk terus tumbuh bersama masyarakat dan pemerintah daerah Blora,” kata Syamsuar.

Ia menambahkan, dukungan terhadap kegiatan kebudayaan merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk ikut melestarikan kekayaan budaya lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat Blora.

Syamsuar juga menyampaikan terima kasih atas dukungan, kerja sama, dan kepercayaan yang selama ini diberikan Pemerintah Kabupaten Blora dan masyarakat kepada EMCL.

Menurutnya, kolaborasi yang baik dengan pemerintah daerah dan masyarakat turut mendukung keberlangsungan operasi Blok Cepu agar berjalan aman, selamat, andal, dan efisien dalam mendukung pemenuhan kebutuhan energi nasional.

“Keberhasilan ini bukan hanya keberhasilan perusahaan, tapi juga keberhasilan bersama yang lahir dari dukungan masyarakat, pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Blora,” ujarnya.

Ia berharap semangat kebersamaan dalam BCF 2026 dapat mempererat hubungan antarmasyarakat, meningkatkan kebanggaan terhadap budaya daerah, serta mendorong kontribusi bersama bagi kemajuan Blora dan Indonesia.

BARONGAN HINGGA TARI PRAJURIT SURO ING JIPANG BERPADU DENGAN TAYUB

Kemegahan BCF III terlihat saat ribuan penari berkostum warna-warni memenuhi pelataran Goa Terawang Ecopark. Ketika aba-aba dimulai, para penari bergerak serempak mengikuti irama musik tayub yang menjadi ruh utama festival.

Di bawah arahan seniman tayub senior Blora, gerakan yang lembut, gemulai, dan penuh penghayatan menggambarkan semangat kebersamaan yang menjadi bagian dari karakter budaya masyarakat setempat.

BCF 2026 dirancang sebagai pertunjukan kolaboratif yang menyatukan berbagai kesenian tradisional khas Blora. Barongan dengan ritmenya yang menghentak, kesenian Jedoran yang bersahaja, serta Tari Prajurit Suro ing Jipang yang tegas berpadu dengan seni tayub.

Kolaborasi tersebut memberikan ruang bagi beragam komunitas seni untuk tampil bersama dalam satu panggung budaya. Dengan begitu, kekayaan kesenian Blora dapat diperkenalkan secara lebih utuh kepada masyarakat dan para pengunjung.

Kepala Bidang Pariwisata Dinporabudpar Blora, Yeti Romdonah, menyampaikan kebanggaannya atas terselenggaranya BCF tahun ini.

“Konsep kolaboratif ini sengaja diciptakan untuk memeluk semua komunitas seni, memberi mereka ruang bernapas yang lebih lega, sekaligus membisikkan keindahan warisan leluhur Blora kepada setiap pasang mata pengunjung Goa Terawang,” ungkapnya.

Suasana festival semakin meriah ketika para tamu undangan ikut berbaur dengan penari dan masyarakat. Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, Ketua DPRD Blora Mustopa, Anggota DPR RI Eva Monalisa, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Niken Mayasari, Ketua TP PKK Ainia Shalichah, jajaran Forkopimda, perwakilan SKK Migas, UNS, Badan Kerja Sama (BKS) PI Blok Cepu, BTN, ADM Perhutani Blora, serta pimpinan perangkat daerah turut hadir.

Mahasiswa PEM Akamigas Cepu dari berbagai negara dan undangan lainnya juga ikut menikmati suasana kebersamaan dengan mengalungkan sampur serta berjoget bersama para penari.

Pemandangan ribuan penari yang bergerak serempak di tengah kawasan wisata alam menjadi salah satu daya tarik utama BCF tahun ini. Perpaduan antara seni tradisional dan lanskap Goa Terawang Ecopark menghadirkan pengalaman budaya yang berbeda bagi para pengunjung.

DIPADUKAN DENGAN PERTEMUAN DESA WISATA SE-JAWA TENGAH

Rangkaian BCF 2026 juga bersanding dengan Pertemuan Forum Komunikasi (FK) Desa Wisata ke-35 se-Jawa Tengah.

Sehari sebelum puncak festival, Jumat (9/10/2026), sekitar 150 hingga 200 pengelola desa wisata dan perwakilan dinas pariwisata dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah dijadwalkan berkumpul dan menginap di Desa Tinapan, Kecamatan Todanan.

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi para pengelola desa wisata untuk berbagi pengalaman, bertukar gagasan, serta membahas strategi pengembangan pariwisata di daerah masing-masing.

Pada hari berikutnya, para peserta diarahkan menuju Goa Terawang Ecopark untuk menyaksikan sekaligus merasakan kemeriahan Blora Culture Festival.

Kehadiran pengelola desa wisata dari berbagai daerah ini diharapkan memperkuat jejaring promosi dan membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan destinasi wisata.

Melalui BCF III, Kabupaten Blora menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Seni tayub yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat kini mendapat ruang lebih luas untuk dikenal generasi muda maupun wisatawan dari luar daerah.

Dengan dukungan pemerintah, pelaku seni, masyarakat, dan sektor swasta, Blora Culture Festival diharapkan terus berkembang menjadi agenda unggulan yang memperkuat identitas budaya sekaligus mengangkat potensi wisata Kabupaten Blora ke panggung nasional.

Share this article :

0 komentar:

 
Copyright © 2013. infoblora.id - All Rights Reserved