INFOBLORA.ID - Puluhan petani tebu kembali menggelar aksi tumpah tebu di depan gerbang PT Gendhis Multi Manis (GMM), Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Dalam aksi jilid dua tersebut, para petani meluapkan kekecewaan terhadap PT GMM yang dinilai belum merealisasikan komitmen penyerapan tebu petani Blora.
Aksi yang berlangsung pada Selasa (2/6/2026) itu diwarnai orasi, teriakan protes, penampilan biduan, hingga pembacaan puisi oleh mahasiswa. Massa mengawal iring-iringan truk bermuatan tebu menuju gerbang pabrik. Setibanya di lokasi, sejumlah batang tebu dibawa oleh pengendara motor di barisan depan, kemudian diikuti truk yang menumpahkan muatan tebu tepat di depan pintu masuk pabrik sebagai simbol protes.
Salah satu petani, Anton Sudibyo, menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan petani karena berbagai janji yang dinilai belum terealisasi hingga saat ini.
“Ini aksi jilid dua. Kami merasa di-PHP, dibohongi. Semua biaya aksi ini murni dari iuran petani, tidak ada yang mem-back-up,” tegas Anton.
Menurutnya, aksi tersebut menjadi peringatan terakhir sebelum para petani membawa persoalan tebu Blora ke tingkat nasional. Bahkan, petani siap menggelar aksi serupa di Jakarta jika tidak ada langkah nyata dari PT GMM maupun Bulog.
“Kalau tetap tidak ada respons, kami akan bawa tebu ke Jakarta. Sudah dua tahun petani menunggu, tetapi tidak ada penyelesaian yang jelas,” ujarnya.
Petani juga menyoroti program swasembada gula nasional yang tengah digencarkan pemerintah. Mereka meminta Presiden Prabowo Subianto mengevaluasi jajaran terkait agar kondisi di lapangan dapat diketahui secara objektif.
“Jangan sampai orang-orang di bawah hanya ABS (asal bapak senang). Kalau seperti ini terus, program swasembada gula bisa gagal,” tandasnya.
Selain persoalan penyerapan hasil panen, petani mengeluhkan kondisi pabrik gula yang belum beroperasi secara optimal. Akibatnya, biaya angkut dan distribusi tebu menjadi lebih tinggi dan membebani petani.
Mereka juga menyinggung adanya kesepakatan bermaterai mengenai komitmen penyerapan 100 persen tebu petani Blora oleh PT GMM. Namun hingga memasuki Juni 2026, komitmen tersebut dinilai belum terealisasi.
Tidak hanya melakukan aksi tumpah tebu, para petani juga berencana membawa persoalan tersebut ke Komisi IV dan Komisi VI DPR RI agar pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka hadapi.
Sementara itu, Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Muldiyanti, membantah anggapan bahwa pihaknya mengingkari janji kepada petani. Ia menjelaskan, PT GMM bersama Bulog telah membentuk tim untuk melakukan pendataan lahan dan potensi tebu yang siap dipanen.
“Kami sudah mulai pendataan wilayah yang dapat menyerap tebu petani Blora dan mengalihkan ke pabrik gula di sekitar Blora. Saat ini ada sekitar 200 petani tebu di Blora yang sedang didata,” jelasnya.
Menurut Sri Emilia, tim tersebut terdiri atas unsur internal PT GMM, Bulog, serta melibatkan perwakilan petani. Selain itu, PT GMM juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pabrik gula, baik milik Sugar Group Nusantara (SGN) maupun pabrik gula swasta di sekitar Blora.
Ia menambahkan, proses penyerapan tebu masih menunggu tahapan administrasi dan regulasi yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Di sisi lain, kajian independen terkait kerusakan mesin pabrik juga masih berlangsung.
“Prioritas kami tetap petani tebu Blora. Untuk harga masih kami koordinasikan dengan pabrik gula lain. Dua minggu lagi kami targetkan sudah ada perkembangan karena saat ini masih proses,” pungkasnya.


0 komentar:
Posting Komentar