Home » , , , » PERAJIN TEMPE PILIH PERKECIL UKURAN AKIBAT HARGA KEDELAI NAIK, JAGA PELANGGAN TETAP SETIA

PERAJIN TEMPE PILIH PERKECIL UKURAN AKIBAT HARGA KEDELAI NAIK, JAGA PELANGGAN TETAP SETIA

radiogagakrimangfm.com on 9 Apr 2026 | 08.08


INFOBLORA.ID
- Kenaikan harga kedelai memaksa perajin tempe mengambil langkah strategis dengan memperkecil ukuran produk. Upaya ini dilakukan agar harga jual di pasaran tetap stabil dan tidak memberatkan konsumen.

Seperti yang dilakukan Najib Nur Roihan, perajin tempe di Dukuh Sambong, Desa Patalan. Ia mengaku, kenaikan harga kedelai impor menjadi faktor utama yang mempengaruhi biaya produksi. Menurutnya, kondisi geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah, turut berdampak pada jalur perdagangan kedelai.

“Untuk bahan baku kita masih mengandalkan kedelai impor. Saat ini harganya naik cukup signifikan,” jelas Najib.

Ia menyebutkan, sebelumnya harga kedelai per karung (50 kilogram) berada di kisaran Rp450 ribu. Namun sejak Februari lalu, harga terus merangkak naik hingga kini mencapai sekitar Rp530 ribu per karung atau mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 20 persen.

Meski demikian, Najib memastikan pasokan kedelai masih relatif aman dan mudah ditemukan di pasaran. Hanya saja, kenaikan harga yang terjadi bertahap membuat para perajin harus memutar otak agar usaha tetap berjalan.

“Saat ini kami memilih mengecilkan ukuran tempe. Kalau harga dinaikkan, khawatir konsumen dan tengkulak akan keberatan,” ujarnya.

Selain kedelai, kenaikan harga juga terjadi pada bahan pendukung seperti plastik pembungkus yang ikut membebani biaya produksi. Kondisi tersebut membuat perajin harus menyesuaikan strategi agar tetap bisa bertahan.

Meski ukuran diperkecil, Najib menegaskan kualitas tempe tetap dijaga. Ia menyebut pelanggan sejauh ini dapat memahami kondisi yang terjadi.

“Untuk kualitas tetap kami jaga. Pelanggan juga sudah mulai terbiasa dengan ukuran yang sedikit lebih kecil,” tambahnya.

Dalam sehari, Najib mampu memproduksi sekitar 70 kilogram tempe. Hasil produksinya dipasarkan ke desa-desa sekitar serta pasar tradisional terdekat.

Para perajin berharap harga kedelai dapat kembali stabil, sehingga produksi tempe bisa kembali normal tanpa harus mengurangi ukuran maupun kualitas produk.

Share this article :

0 komentar:

 
Copyright © 2013. infoblora.id - All Rights Reserved