![]() |
| Salah satu warga desa melintas di Jembatan Desa Giyanti yang terancam ambrol. Pihak desa sementara memberi pagar pembatas dari ranting pohon jati. |
Diperkirakan
karena derasnya gerusan air Kali Bakalan yang menyebabkan pondasi jembatan retak
dan ambles. Jembatan ini merupakan akses utama warga di dua dukuhan di Desa
Giyanti untuk menuju Kecamatan Cepu.
Kondisi paling parah terlihat di jembatan sisi utara, yakni pondasi tampak retak dan sayap jembatan ambles dengan lebar mencapai tiga meter, dan bahkan memakan badan jalan. Selain itu, bagian landasan oprit di sisi barat jembatan juga mulai muncul patahan. Untuk sementara, Pemerintah desa setempat memasang pagar pembatas dengan menggunakan ranting pohon jati.
Seorang warga Dukuh Cancangan, Desa Giyanti menuturkan, retak dan amblesnya sayap jembatan terjadi setelah guyuran hujan deras empat hari lalu. Saat itu, hujan yang turun usai shalat Jum’at membuat Kali Bakalan meluap. Air yang mengalir deras mengikis bagian bawah pondasi jembatan. ”Sebelum shalat Jum’at kondisi jembatan masih normal, hanya saja dua jam setelah itu jembatan sudah retak dan ambles,” jelasnya.
Salah seorang perangkat Desa Giyanti, Rasyid mengemukakan, pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor Kecamatan Sambong. Pihak desa juga berharap dinas terkait segera mengambil tindakan. Sebab, amblesnya jembatan telah menggangu mobilisasi warga. Jika sebelumnya kendaraan roda empat dan dua dari arah berlawanan bisa bersimpangan, kini harus mengantri.
Kondisi paling parah terlihat di jembatan sisi utara, yakni pondasi tampak retak dan sayap jembatan ambles dengan lebar mencapai tiga meter, dan bahkan memakan badan jalan. Selain itu, bagian landasan oprit di sisi barat jembatan juga mulai muncul patahan. Untuk sementara, Pemerintah desa setempat memasang pagar pembatas dengan menggunakan ranting pohon jati.
Seorang warga Dukuh Cancangan, Desa Giyanti menuturkan, retak dan amblesnya sayap jembatan terjadi setelah guyuran hujan deras empat hari lalu. Saat itu, hujan yang turun usai shalat Jum’at membuat Kali Bakalan meluap. Air yang mengalir deras mengikis bagian bawah pondasi jembatan. ”Sebelum shalat Jum’at kondisi jembatan masih normal, hanya saja dua jam setelah itu jembatan sudah retak dan ambles,” jelasnya.
Salah seorang perangkat Desa Giyanti, Rasyid mengemukakan, pihaknya sudah melaporkan kejadian tersebut kepada Kantor Kecamatan Sambong. Pihak desa juga berharap dinas terkait segera mengambil tindakan. Sebab, amblesnya jembatan telah menggangu mobilisasi warga. Jika sebelumnya kendaraan roda empat dan dua dari arah berlawanan bisa bersimpangan, kini harus mengantri.
Menurut Rasyid, jembatan Desa Giyanti merupakan akses utama yang menghubungkan
sejumlah desa di wilayah Kecamatan Sambong. Jika jembatan tersebut sampai
ambrol, akan sangat mengganggu aktivitas warga, terutama anak sekolah. Karena
untuk menuju Kecamatan Cepu, mereka harus memutar melalui Kecamatan Kasiman,
Kabupaten Bojonegoro yang jarak tempuhnya 3 kali lipat lebih jauh. Atau ada
jalan lain, yakni menembus lebatnya hutan melewati Desa Ledok, Kecamatan
Sambong.
Camat Sambong, Drs Luluk ketika dihubungi menjelaskan, bahwa pihaknya sudah cek langsung ke lapangan dan akan segera dilaporkan ke BPBD Kabupaten. (ud-SS | Jo-infoblora)
Camat Sambong, Drs Luluk ketika dihubungi menjelaskan, bahwa pihaknya sudah cek langsung ke lapangan dan akan segera dilaporkan ke BPBD Kabupaten. (ud-SS | Jo-infoblora)


0 komentar:
Posting Komentar