![]() |
| Ketua BPD Desa Prantaan Jatmo, menyampaikan tuntutan dan aspirasi warga saat berdialog dengan bupati dan PT BB E dalam sosialisasi eksplorasi minyak di lapangan Banyubang. |
BLORA. Perusahaan
minyak dan gas (migas) yang ada di Kabupaten Blora dan melakukan eksplorasi,
harus memerhatikan lingkungan sekitar. Sehingga, kegiatan eksplorasi tidak
hanya memupuk keuntungan semata, tetapi juga kelestarian lingkungan dan kondisi
warga setempat ikut diperhatikan.
Hal itu terungkap dalam acara
sosialisasi Kerja Sama Operasi (KSO) Lapangan Migas Banyubang oleh PT Banyubang
Blora Energi (BB Energi), di Desa Prantaan, Kecamatan Bogorejo yang dihadiri Bupati
Djoko Nugroho, Rabu (10/9) lalu.
Salah seorang warga yang merupakan
ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jatmo mengatakan, jika warga meminta
pemkab untuk menegur atau memberikan sosialisasi kepada perusahaan migas, yang
akan melakukan eksplorasi di wilayah Blora. Sehingga, pemkab tidak hanya
meminta warga untuk mendukung perusahaan migas masuk ke Blora, tetapi harus ada
imbal baliknya.
”Jangan hanya sisi positifnya yang
dipaksakan kepada warga, jika perusahaan migas itu masuk. Tapi, untuk sisi
negatifnya juga harus diperhatikan. Karena, masuknya perusahaan migas itu
sangat mungkin muncul terjadinya kerusakan lingkungan,” kata Jatmo.
Menurut Jatmo, dengan masuknya
perusahaan migas di Blora dan juga di wilayah desanya, warga meminta adanya
jaminan keselamatan dan kelestarian lingkungan. ”Sekarang ini, sumber air di
desa kami bagus. Sumur sedalam satu meter sudah keluar airnya. Sehingga, kami
bisa mengairi tanaman dengan baik,” imbuhnya.
Karena itu, lanjutnya, sosialisasi
yang diberikan jika ada perusahaan migas yang masuk ke wilayah Blora harus
dilakukan secara jujur dan apa adanya. Warga meminta pemkab, sebagai pemilik
perusahaan ikut bertanggungjawab jika terjadi dampak negatif dari beroperasinya
perusahaan tersebut.
”Jika itu terjadi, maka dampak
langsung akan diterima warga Desa Prantaaan. Apa kompensasi yang kami terima
nanti akan sebanding dengan dampak yang diderita. Kalau terjadi seperti
Lapindo, siapa yang bertanggungjawab,” terang Jatmo.
Sementara itu, General Manager PT
BB Energi Muhammad Damsuki menyatakan, pihaknya menilai jika sosialisasi
tersebut patut diketahui warga. Karena, perusahaannya akan melakukan eksplorasi
minyak di Desa Prantaan. Oleh karena itu, pihaknya akan berupaya semaksimal
mungkin mendengarkan aspirasi warga Desa Prantaan.
Menurut Damsuki, PT BB Energi
bekerjasama dengan PT Banyubang Blora Pertiwi sebagai pendukung dana. Dukungan
secara teknis, diberikan PT Sele Raya Belida.
”Lapangan Banyubang punya luas
36,342 kilometer persegi. Meliputi Kecamatan Bogorejo, Jepon dan Jiken. Desa
yang masuk wilayah operasi, di antaranya Desa Prantaan di Kecamatan Bogorejo,
Desa Tempellemahbang di Kecamatan Jepon dan Desa Bangoan di Kecamatan Jiken.
Lapangan Banyubang merupakan lapangan tua peninggalan Belanda,” jelas Damsuki.
Lebih lanjut Damsuki menjelaskan,
di lapangan Banyubang, terdapat sekitar 33 buah sumur peninggalan Belanda, dan
lima sumur yang dibor Pertamina. Di Desa Prantaan, pihaknya akan mengerjakan
dua sumur, dan di akhir September nanti ditargetkan alat bor (Rig) sudah masuk.
Dirinya juga menjamin, jika perusahaannya akan sesuai aturan dan memerhatikan
lingkungan sekitar.
Bupati Djoko Nugroho meminta kepada
manajemen PT BB Energi untuk ikut menangani persoalan sosial, berupa tenaga
kerja. Sehingga, diharapkan perusahaan tersebut merekrut tenaga kerja lokal di
Desa Prantaan.
”Dengan cara itu, waga Blora tidak
hanya jadi penonton atas operasional perusahaan migas di wilayahnya.
Jadi, tenaga kerja lokal harus diutamakan,” harapnya. (Aries-Murianews |
rs-infoblora)


0 komentar:
Posting Komentar