| CUCI BENDA PUSAKA : Mulyono (pakai blangkon) sibuk mencuci benda pusaka milik warga di pelataran Stasiun Lama Blora, ia rutin buka jasa jamas setiap bulan Sura. (foto: rs-infoblora) |
Setiap hari mulai pukul 07.00 WIB sampai 16.00 WIB, Mulyono yang juga warga Desa/Kecamatan Todanan ini tetap setia dan tidak beranjak dari tikarnya yang digelar di muka Stasiun Lama ini.
Dengan duduk lesehan sembari menunggu warga yang hendak mencucikan benda pusaka, Mulyono mengobrol dengan warga lain yang ada di eks stasiun Blora. Sebungkus rokok menemaninya. "Kebetulan pagi ini (kemarin) belum ada warga yang datang. Meski begitu saya sudah siapkan segala peralatan yang diperlukan untuk menjamas," ujarnya, saat ditemui kemarin.
Sehari-hari ia adalah pemilik usaha penggilingan keliling di desanya. Namun khusus di bulan Sura ini, usaha itu ditinggalkannya. "Bukan berarti tutup, tapi saya pasrahkan pada karyawan untuk mengoperasionalkan penggilingan tersebut. Setelah bulan Suro selesai, saya kembali beraktifitas seperti biasa, mengoperasionalkan penggilingan seperti biasa," ungkapnya sembari tertawa.
Saat bulan Suro seperti ini, pria yang lahir pada 1959 itu memilih melanjutkan profesi orang tuanya, yakni sebagai pencuci benda-benda pusaka. Untuk memudahkan pelanggan menemukannya. Pria yang mengaku tidka pernah mengenyam bangku sekolah ini, sejak 10 tahun terakhir tidak pindah lokasi penjamasan.
Mulyono mengaku, tahun ini warga yang meminta mencucikan benda-benda pusaka lebih banyak dibanding tahun lalu. Padahal tahun ini tarifnya naik menjadi Rp 15.000 dari sebelumnya Rp 10.000. Mulyono beralasan kenaikan tarif tersebut disesuaikan dengan kondisi saat ini dimana harga barang-barang rata-rata naik. "Setiap hari sekitar 25 orang. Tahun lalu rata-rata 20 orang," katanya.
Jumlah tersebut dipastikan naik beberapa kali lipat saat hari baik di bulan Suro. Mulyono menyebut hari yang dianggap baik itu adalah Selasa Kliwon, Rabu Pahing, dan Jumat Pahing. "Saat Selasa Kliwon jumlahnya mencapai 45 orang," ungkapnya.
Bukan tanpa sebab, mengapa pelanggan Mulyono meningkat. Pelayanan yang baik menjadikan warga memilih Mulyono untuk mencucikan pusaka nya. Mulyono mengaku pernah didatangi pemilik benda pusaka yang menurutnya benda tersebut bertuah. Namun dia tidak mau cerita banyak tentang benda tersebut.
Proses jamas (pencucian) diawali dengan merendam benda pusaka dengan air kelapa yang telah disiapkan di dalam wadah, setelah beberapa lama dimasukkan pada air jeruk agar karat besi maupun kotoran yang menempel hilang.
Lama pusaka di dalam rendaman air jeruk tergantung kepekatan kotoran yang menempel. Makin banyak karat dan kotorannya, waktu perendaman juga semakin lama. Selanjutnya pusaka seperti keris tersebut diangkat dan dikeringkan dengan bedak sembari digosok dengan alat yang mampu menghilangkan karat dan kotoran atau yang biasa disebut dengan warang. Prosesi yang terakhir dilakukan adalah mengolesi benda pusaka dengan minyak cendana. (rs-infoblora | Abdul Muiz)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kritik dan Saran serta masukan sangat berharga demi akuratnya informasi dalam portal infoblora.id ini.