Home » , » PT.Geo Cepu Indonesia Belum Mampu Tingkatkan Produksi Migas di Blora

PT.Geo Cepu Indonesia Belum Mampu Tingkatkan Produksi Migas di Blora

infoblora.id on 11 Sep 2014 | 13.00

Field Manager PEP Asset 4 Field Cepu, Wresniwiro
BLORA. Hingga satu tahun berjalan sejak kontrak Kerja Sama Operasi (KSO) ditandatangani pada 13 Agustus 2013 lalu,  PT. Geo Cepu Indonesia (GCI), belum mampu meningkatkan produksi minyak di wilayahnya. Hal itu diakui, Field Manager (FM) PT. Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4 Field Cepu, Wresniwiro.

Dia menjelaskan, KSO yang dilakukan dengan PT. GCI pada empat lapangan sumur minyak  tua. Yaitu struktur Ledok, Semanggi, Nglobo dan Kawengan. Kebijakan tersebut merupakan keputusan dari induk perusahaan di Jakarta.

“KSO bertujuan untuk meningkatkan hasil produksi minyak negara,” kata Wiro.

Selain dari sumur yang sudah ada dan beroperasi, peningkatan produksi juga diharapkan diperoleh dari adanya pengeboran sumur minyak baru. Namun, hingga satu tahun berjalan, PT. GCI selaku pemenang kontrak KSO belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan pengeboran sumur baru.

Wiro membenarkan jika produksi minyak dari empat struktur yang saat ini dikelola PT. GCI memang mencapai 1.775 barel per hari. Semua produksi itu dikirim ke Pertamina melalui kilang yang ada di PPP Menggung.

Namun Ia juga mengklarifikasi, hasil produksi itu sebenarnya sudah masuk dalam proyeksi Pertamina sebelum adanya KSO. Bahkan ketika masih dikelola Pertamina, produksinya pernah mencapai di atas 1.800 barel per hari.

Dia mengungkapkan, PT. GCI tidak hanya diharapkan tidak hanya bisa meningkatkan produksi dari sumur yang sudah ada. Tetapi juga dengan mengebor sumur baru. Namun hal itu yang hingga kini belum dilakukan oleh PT. GCI.

“Evaluasi dari kantor pusat pasti ada. Karena itu kami minta mereka bekerja dengan baik,” ungkap Wiro sambil menambahkan, kontrak KSO ditandatangani tanggal 16 Agustus 2013.
Head Operation Support PT. GCI, Hery Mutiara mengemukakan, pekerjaan yang dilakukan masih sebatas merawat sumur yang sudah ada agar tetap berproduksi. Pasalnya, hingga saat ini pihaknya masih menunggu hasil studi upaya kelola lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL-UPL).

Menurutnya, dokumen UKL dan UPL tersebut dibutuhkan sebagai dasar untuk melakukan kerja ulang pindah lapisan (work over) dan pengeboran sumur baru.

“Dalam hal ini menggandeng STEM-Akamigas Cepu. RKS nya sudah kita serahkan sekitar bulan April lalu,” katanya.

Hery mengungkapkkan, besaran rencana kegiatan KSO Pertamina EP - Geo Cepu Indonesia kurang dari 5.000 barel per hari (BPOD). Sedangkan kontrak yang telah ditandatangani, target yang diberikan Pertamina 1.500 barel per hari.

"Dengan perawatan kita optimis mampu meningkatkan produksi migas melebihi target tersebut,”  imbuh Hery.

Dia menambahkan, tidak wajib memiliki analisa masalah dampak lingkungan (amdal). Hal ini merujuk pada surat dari Kementerian Hidup Nomor B 7326/Dep.I/LH/PDAL/06/2014 tentang arahan dokumen lingkungan tertanggal 27 Juni 2014. (ams-suarabanyuurip | Jo-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Copyright © 2013. infoblora.id - All Rights Reserved