![]() |
Field Manager PEP Asset 4 Field Cepu, Wresniwiro |
BLORA. Hingga satu
tahun berjalan sejak kontrak Kerja Sama Operasi (KSO) ditandatangani pada 13
Agustus 2013 lalu, PT. Geo Cepu Indonesia (GCI), belum mampu meningkatkan
produksi minyak di wilayahnya. Hal itu diakui, Field Manager (FM) PT.
Pertamina Eksplorasi dan Produksi (EP) Asset 4 Field Cepu, Wresniwiro.
Dia menjelaskan, KSO yang dilakukan
dengan PT. GCI pada empat lapangan sumur minyak tua. Yaitu struktur
Ledok, Semanggi, Nglobo dan Kawengan. Kebijakan tersebut merupakan keputusan
dari induk perusahaan di Jakarta.
“KSO bertujuan untuk meningkatkan
hasil produksi minyak negara,” kata Wiro.
Selain dari sumur yang sudah ada
dan beroperasi, peningkatan produksi juga diharapkan diperoleh dari adanya
pengeboran sumur minyak baru. Namun, hingga satu tahun berjalan, PT. GCI selaku
pemenang kontrak KSO belum menunjukkan tanda-tanda akan melakukan pengeboran
sumur baru.
Wiro membenarkan jika produksi
minyak dari empat struktur yang saat ini dikelola PT. GCI memang mencapai 1.775
barel per hari. Semua produksi itu dikirim ke Pertamina melalui kilang yang ada
di PPP Menggung.
Namun Ia juga mengklarifikasi,
hasil produksi itu sebenarnya sudah masuk dalam proyeksi Pertamina sebelum
adanya KSO. Bahkan ketika masih dikelola Pertamina, produksinya pernah mencapai
di atas 1.800 barel per hari.
Dia mengungkapkan, PT. GCI tidak
hanya diharapkan tidak hanya bisa meningkatkan produksi dari sumur yang sudah
ada. Tetapi juga dengan mengebor sumur baru. Namun hal itu yang hingga kini
belum dilakukan oleh PT. GCI.
“Evaluasi dari kantor pusat pasti
ada. Karena itu kami minta mereka bekerja dengan baik,” ungkap Wiro sambil
menambahkan, kontrak KSO ditandatangani tanggal 16 Agustus 2013.
Head Operation Support PT. GCI,
Hery Mutiara mengemukakan, pekerjaan yang dilakukan masih sebatas merawat sumur
yang sudah ada agar tetap berproduksi. Pasalnya, hingga saat ini pihaknya masih
menunggu hasil studi upaya kelola lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan
(UKL-UPL).
Menurutnya, dokumen UKL dan UPL
tersebut dibutuhkan sebagai dasar untuk melakukan kerja ulang pindah lapisan
(work over) dan pengeboran sumur baru.
“Dalam hal ini menggandeng
STEM-Akamigas Cepu. RKS nya sudah kita serahkan sekitar bulan April lalu,”
katanya.
Hery mengungkapkkan, besaran
rencana kegiatan KSO Pertamina EP - Geo Cepu Indonesia kurang dari 5.000 barel
per hari (BPOD). Sedangkan kontrak yang telah ditandatangani, target yang
diberikan Pertamina 1.500 barel per hari.
"Dengan perawatan kita optimis
mampu meningkatkan produksi migas melebihi target tersebut,” imbuh
Hery.
Dia menambahkan, tidak wajib
memiliki analisa masalah dampak lingkungan (amdal). Hal ini merujuk pada surat
dari Kementerian Hidup Nomor B 7326/Dep.I/LH/PDAL/06/2014 tentang arahan
dokumen lingkungan tertanggal 27 Juni 2014. (ams-suarabanyuurip | Jo-infoblora)
0 komentar:
Posting Komentar