INFOBLORA.ID - Aktivitas terminal tipe C di Kabupaten Blora terus mengalami penurunan. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada semakin sepinya aktivitas angkutan umum, tetapi juga berimbas terhadap penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi terminal.
Kepala UPT Terminal dan Parkir Dinas Perumahan, Permukiman dan Perhubungan (Dinrumkimhub) Blora, Adhitya Mukti Sanjaya, mengatakan realisasi PAD dari empat terminal yang dikelola Pemkab Blora hingga semester I 2026 mencapai Rp57,9 juta.
Capaian tersebut sekitar 59 persen dari target PAD tahun 2026 sebesar Rp97,5 juta. Pendapatan tersebut bersumber dari retribusi kios dan Tempat Pemungutan Retribusi (TPR).
“ Sumbernya dari retribusi kios dan TPR,” ujar Adhitya.
Empat terminal tipe C yang dikelola Pemkab Blora meliputi Terminal Ngawen, Randublatung, Kunduran dan Todanan. Dari empat terminal tersebut, aktivitas angkutan umum masih terlihat di Terminal Ngawen.
Menurut Adhitya, rata-rata hanya terdapat sekitar 10 hingga 15 armada yang masuk Terminal Ngawen setiap hari. Setiap armada dikenai retribusi TPR sebesar Rp5 ribu.
“Yang masih cukup ramai Terminal Ngawen. Tapi lahan terminal juga terbatas, sehingga jumlah armada yang masuk tidak banyak,” jelasnya.
Selain aktivitas angkutan yang menurun, jumlah kios di empat terminal tersebut juga terbatas. Saat ini tercatat hanya 27 kios yang menjadi salah satu sumber penerimaan retribusi daerah.
Adhitya menyebut kondisi tersebut membuat kontribusi retribusi kios belum maksimal. Di sisi lain, perubahan pola mobilitas masyarakat yang kini lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi turut membuat keberadaan angkutan umum semakin terpinggirkan.
Dinrumkimhub Blora mencatat jumlah angkutan umum yang masih beroperasi saat ini hanya 67 armada. Angka tersebut turun drastis dibandingkan tahun 2005 yang mencapai 202 armada.
Padahal, kebutuhan ideal angkutan umum di Kabupaten Blora diperkirakan mencapai 205 armada. Artinya, jumlah angkutan umum yang tersedia saat ini masih sangat jauh dari kebutuhan ideal masyarakat.
Puluhan armada yang tersisa tersebut melayani sejumlah koridor. Rinciannya, Blora-Kunduran sebanyak 23 armada, Blora-Cepu 21 armada, Blora-Medang-Bulu 11 armada, serta Blora-Jepon dan Cepu-Randublatung-Doplang-Sulur masing-masing enam armada.
Minimnya jumlah angkutan umum tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas terminal tipe C semakin berkurang.
Kondisi ini sekaligus menjadi tantangan bagi Pemkab Blora untuk meningkatkan kembali minat masyarakat menggunakan transportasi umum. Selain untuk mendukung mobilitas warga, keberadaan angkutan umum yang aktif juga berpotensi menghidupkan kembali aktivitas terminal dan meningkatkan penerimaan PAD dari sektor retribusi.
Dengan kondisi angkutan umum yang terus menyusut dan masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi, pengelolaan serta revitalisasi transportasi umum menjadi salah satu pekerjaan penting yang perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.


0 komentar:
Posting Komentar