INFOBLORA.ID - Kucuran keringat tampak menetes dari dahi para pekerja di salah satu usaha produksi genteng di Desa Balong, Kecamatan Jepon. Bukan semata karena terik cuaca, melainkan tuntutan untuk mengebut pesanan pelanggan yang terus meningkat.
Lonjakan permintaan ini terjadi seiring program gentengisasi yang dicanangkan Presiden RI Prabowo Subianto sejak 9 Februari 2026. Program tersebut bertujuan untuk memperindah permukiman warga sekaligus membantu meredam suhu panas di lingkungan tempat tinggal.
Imron, salah satu perajin genteng setempat, mengakui adanya peningkatan signifikan dalam penjualan sejak program tersebut digaungkan.
“Alhamdulillah penjualan meningkat hingga 70 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Namun di balik meningkatnya permintaan, jumlah perajin genteng di Desa Balong justru mengalami penurunan. Kelangkaan bahan baku menjadi kendala utama yang dihadapi para pelaku usaha.
Menurut Imron, saat ini para perajin harus berebut bahan baku dengan produsen lain. Kondisi tersebut membuat sebagian perajin memilih berhenti karena tidak ingin mengambil risiko.
“Saat ini perajin di desa ini hanya ada 15, sebelumnya ada sekitar 25 perajin. Bahan baku sulit dan banyak yang tidak mau ambil risiko,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses pembuatan genteng terdiri dari tiga tahapan utama, yakni pengolahan tanah atau penggilangan, pencetakan, serta tahap akhir berupa pembakaran atau finishing.
Untuk harga, genteng dijual bervariasi tergantung ukuran dan ketebalan, mulai dari Rp900 hingga Rp1.200 per biji. Dalam kondisi normal, produksi harian bisa mencapai 700 hingga 800 biji, meskipun sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca.
“Kalau cuaca buruk, proses produksi bisa molor sampai dua hari,” ujarnya.
Imron berharap program gentengisasi tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat umum, tetapi juga diintegrasikan dalam berbagai program pembangunan pemerintah.
“Harapannya program gentengisasi ini juga digunakan dalam program pemerintah seperti KDMP,” pungkasnya.


0 komentar:
Posting Komentar