INFOBLORA.ID - Duka mendalam menyelimuti komunitas Sedulur Sikep di Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora. Sesepuh Sedulur Sikep, Mbah Pramugi Prawiro Widjojo, dikabarkan “ganti sandangan” atau tutup usia pada Sabtu malam (21/2/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Mbah Pramugi meninggal dunia dalam usia 68 tahun, setelah kurang lebih satu tahun terakhir kesehatannya terganggu. Ia mengembuskan napas terakhir tak lama setelah pulang dari menjalani pengobatan rutin di RSU Sultan Agung Semarang.
Kepala Desa Sambongrejo, Wahono Heru Prayitno, menyampaikan bahwa almarhum sempat tiba di rumah sekitar pukul 18.35 WIB usai berobat. Namun sekitar tiga jam kemudian, kabar duka itu datang.
“Ndek dalu jam 18.35 WIB sampai rumah. Dan sekitar pukul 22.00 WIB Mbah Pram tutup usia,” ucap Heru.
Menurutnya, sosok Mbah Pramugi sangat ditokohkan oleh masyarakat Sambongrejo, baik dari segi pitutur luhur maupun keteladanan hidup. Setiap Jumat Legi, almarhum rutin menggelar sarasehan yang diisi dengan wejangan dan nilai-nilai kehidupan yang bermakna bagi warga.
“Kami tentu sangat kehilangan atas meninggalnya Mbah Pramugi ini, sebab beliau sangat ditokohkan baik di desa maupun di Kabupaten Blora,” tuturnya.
Berdasarkan pantauan di lokasi, rumah duka di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, dipadati para peziarah. Sejumlah karangan bunga dari berbagai pejabat dan tokoh tampak terpasang di sekitar kediaman almarhum. Sebagian pelayat mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan iket kepala, ciri khas busana Sedulur Sikep.
Heru menambahkan, almarhum dimakamkan di makam umum Desa Sambongrejo dan tidak ada makam khusus.
“Dimakamkan di makam umum desa, tidak ada makam khusus,” terangnya.
Terkait pesan terakhir, Heru menyebut tidak ada pesan khusus saat sakit. Namun sebelum kesehatannya menurun, Mbah Pramugi kerap berpesan tentang pentingnya menjaga kerukunan, khususnya di kalangan Sedulur Sikep, serta selalu menjaga kebersihan lingkungan.
Sementara itu, tokoh Sedulur Sikep Samin dari Pati, Gunretno, yang turut hadir dalam prosesi ganti sandangan mengaku sangat kehilangan sosok yang akrab disapanya Kang Pram.
“Saya hadir di sini sebagai bentuk hormat atas meninggalnya Kang Pram. Saya cukup kaget saat mendapat kabar beliau ganti sandangan. Saya ikut kehilangan,” ujarnya.
Menurut Gunretno, Kang Pramugi merupakan salah satu tokoh yang konsisten mengakui dan melestarikan ajaran wong Sikep seperti yang diwariskan Mbah Samin Surosentiko. Di era reformasi hingga pasca Orde Baru, almarhum dikenal getol mempertahankan tata cara dan nilai-nilai Sikep agar tetap tersampaikan kepada generasi penerus.
“Salin sandangan Kang Pramugi ini tentu membuat kita kehilangan sosok beliau. Namun saya mengajak Sedulur Sikep di mana saja untuk terus bersama-sama meneruskan perjuangan Mbah Samin,” tegasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebelum wafat, almarhum sempat diajak berdiskusi terkait gagasan pelestarian salah satu titik panggonan Mbah Samin di Ploso Kediren, Randublatung. Bahkan direncanakan pada 15 Maret mendatang akan digelar pertemuan Sedulur Sikep dari berbagai daerah seperti Blora, Kudus, Pati, Bojonegoro, Ponorogo hingga Ngawi untuk berembuk bersama.
Di mata Gunretno, Mbah Pramugi adalah sosok yang mampu menyelami berbagai pendapat, baik dari satu komunitas maupun lintas komunitas. Ia dikenal humoris, merangkul, dan mampu menyatukan banyak pihak.
Ucapan belasungkawa juga datang dari Bupati Blora, Dr. H. Arief Rohman. Melalui pernyataannya, Bupati menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya tokoh adat dan sesepuh Sedulur Sikep tersebut.
“Nderek bela sungkawa atas berpulangnya orangtua kami, tokoh adat kami, sesepuh kami, sesepuh Sedulur Sikep Desa Wisata Kampung Samin Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Kabupaten Blora, Mbah Pramugi Prawiro Widjojo,” ucapnya.
Bupati Arief menilai almarhum sebagai sosok yang baik dan aktif melestarikan kebudayaan. Bahkan, Mbah Pramugi pernah menerima penghargaan Kalpataru tingkat nasional atas kiprahnya dalam gerakan pelestarian alam di Kampung Samin Sambongrejo.
“Kami bersaksi beliau benar-benar orang yang baik. Sugeng tindak Mbah, semoga seluruh amal baiknya diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa tabah dan ikhlas, aamiin,” pungkasnya.
Kepergian Mbah Pramugi meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga dan warga Sambongrejo, tetapi juga bagi komunitas Sedulur Sikep di berbagai daerah yang selama ini menjadikannya panutan dalam menjaga ajaran dan nilai-nilai luhur warisan Mbah Samin.


0 komentar:
Posting Komentar