![]() |
| Direktur Perencanaan dan Pangembangan Bisnis Perum Perhutani Ir Agus Prastawa MBA di petak 66 a Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan ( BKPH ) Ngliron, Randublatung. |
BLORA. Perhutani siap memfasilitasi program sistem pertanian
terpadu (integrated farming system) yang saat ini sedang diuji coba di kawasan
hutan dengan melibatkan multi stake holder. Sistem pertanian terpadu yang dilaksanakan
di kawasan hutan diharapkan bisa menjadi salah satu solusi meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa hutan. Yakni dalam memanfaatlkan lahan hutan
untuk kegiatan pertanian tanaman pangan. Hal tersebut dikatakan Direktur
Perencanaan dan Pangembangan Bisnis Perum Perhutani Ir Agus Prastawa MBA di
petak 66 a Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan ( BKPH ) Ngliron , Randublatung,
Kamis (26/2) kemarin.
“ Intregrated fariming sistem yang melibatkan
multi stake holder diharapkan bisa membuat masyarakat desa hutan lebih
terdorong kearah mandiri, karena mereka secara langsung akan dikenalkan sistim
pertanian yang terintegrasi , keterlibatan disatu sisi bagaimana masyarakat
desa hutan bisa memanfaatkan ruang yang ada untuk kegiatan tanaman pangan dan
disisi lain keterlibatan para pihak tersebut mencakup bagaimana para petani
bisa mendapatkan pupuk untuk tanaman, bagaimana cara pengolahan lahan untuk
pertanian dan bagaimana cara penanganan pasca panen khususnya untuk memasarkan
hasil panen mereka,” ungkapnya.
Sementara itu untuk mensejahterakan
masyarakat desa hutan secara luas pihaknya juga mengakui jika kemampuan
Perhutani terbatas. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa hutan
Perhutani perlu mengajak pihak lain yang berkepentingan untuk bisa bekerjasama
sehingga tujuan integrated farming sistim menuju kearah kedaulatan pangan
nasional bisa secepatnya tercapai.
“ Perhutani siap menjembataninya dengan cara
menyediakan lahan kawasan hutan untuk kegiatan tersebut. Intinya dalam sistim
ini tanaman kehutanan berhasil dengan baik namun disisi lain tanaman pertanian
yang ditanam oleh masyarakat desa hutan juga bisa berhasil dengan dorongan
pengetahuan dari para pihak yang berkepentingan tersebut” kata Agus Prastawa.
Pelaksanaan integrated farming di lapangan, komoditi
yang ditanam disesuaikan dengan keinginan masyarakat setempat apakah dalam
suatu kawasan tersebut cocok untuk tanaman palawija ataukah tanaman padi sebab
tidak menutup kemungkinan dalam satu kawasan tidak semuanya bisa ditanam dengan
satu komoditas mengingat kondisi kesuburan tanah dan topografi yang berbeda.
(Jo-infoblora)


0 komentar:
Posting Komentar