Home » , » Mesin Giling Pabrik Gula GMM Ngadat, Ribuan Hektar Tebu Petani Blora Tak Terserap

Mesin Giling Pabrik Gula GMM Ngadat, Ribuan Hektar Tebu Petani Blora Tak Terserap

infoblora.id on 23 Sep 2014 | 05.00

Pabrik Gula GMM Blora berhenti giling, ribuan hektar tebu petani terancam tak terserap di pabrik tersebut.
BLORA. Keberadaan Pabrik Gula (PG) Gendis Multi Manis (GMM) yang diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan ribuan petani tebu di Kabupaten Blora, namun justru nasib mereka kini semakin tidak jelas. 

Bahkan petani menuding PG GMM dinilai mengingkari janji dan komitmennya saat awal pendirian PG. Sebab kini pabrik gula tersebut berhenti giling dan belum membeli tebu milik petani. Akibatnya, ribuan hektare tanaman tebu milik petani tidak jelas nasibnya. 

Kondisi tersebut juga diakui oleh Dirut Utama PG GMM Blora, Kamajaya, saat mengisi acara sosialisasi Bantuan Sosial (Bansos) di Pendopo Kabupaten Blora belum lama ini. ”Tercatat ada sekitar dua ribu hektare lebih lahan tebu yang belum ditebang,” ujar Kamajaya. 
 
Kamajaya mengatakan permasalahannya bukan PG tidak mau membeli tebu petani. Namun ada sedikit masalah teknis pada operasional mesin boiler atau ketel uap milik PG GMM yang memerlukan perbaikan. Untuk diketahui mesin boiler PG GMM sebanyak dua unit, namun hingga kini yang dioperasikan PG GMM hanya satu unit dan parahnya lagi kini tidak bisa beroperasional. 

“Untuk tahun pertama saya masih dapat memaklumi apabila dalam proses penggilingan masih tersendat masalah mesin kami,” terangnya. 

Namun Kamajaya meyakini mesin yang dimiliki PG GMM dapat dioperasionalkan secara normal pada tahun depan. Pihaknya berjanji kepada para petani tebu hingga batang terakhir tebu di Kabupaten Blora akan diterima dan digiling dalam mesin PG GMM. 

”Ada sekitar 1.600 komponen yang saling terhubung dalam mesin pabrik. Karena banyaknya komponen itu, perlu waktu lama untuk memperbaikinya,” jelas dia. 

Kamajaya juga menjanjikan pabrik bisa beroperasi kembali sekitar tanggal 24-25 September mendatang. Bahkan, pabrik siap menerima tebu milik petani Blora. 

Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora Anton Sudibyo mengaku mempunyai lahan tebu seluas sekitar 40 hektare juga mengaku belum ditebang. Meski secara teknis tebu-tebu miliknya sudah siap ditebang, namun jika tidak segera ditebang akan menurunkan kualitas tebu tersebut. 
 
Sehingga, kata Sudibyo, jika tidak segera dijual rendemennya akan turun. Rendemen turun juga akan merugikan petani. Sebab, dari rendemen tebu itulah keuntungan petani bisa didapat. “Tapi, saya masih akan menunggu PG Blora giling kembali, dan benar-benar membeli tebu milik petani,” terang Anton. 

Sebab, Anton masih berpegang teguh pada janji dari Dirut PG GMM Kamadjaya sebagai pemilik pabrik gula Kamadjaya bahwa selama tebu petani masih berdiri alias belum ditebang, maka semua akan dibeli. 

Pabrik tersebut juga akan tetap memberi batasan rendemen delapan persen. Karena itulah, ia dan petani tebu lainnya masih mau bersabar. ”Tapi, kalau janji itu tidak ditepati, kami akan protes dan berontak pada pabrik gula. Sebab, mereka sudah memberikan janji manis yang tidak semanis tebu,” tegasnya. 

Diketahui, untuk kali kesekian mesin milik PG Blora yang dikelola PT GMM kembali berhenti beroperasi. Akibatnya, proses giling tersendat dan berhenti total. Kali ini, masalah terjadi pada bagian boiler atau ketel uap pabrik, sehingga tak bisa produksi. Padahal, petani sudah berharap mesin bisa normal, dan pabrik giling kembali. (Feb-Patiekspres | Jo-infoblora)
Share this article :

0 komentar:

 
Copyright © 2013. infoblora.id - All Rights Reserved