![]() |
Pabrik Gula GMM Blora berhenti giling, ribuan hektar tebu petani terancam tak terserap di pabrik tersebut. |
BLORA. Keberadaan Pabrik Gula (PG) Gendis Multi Manis (GMM)
yang diharapkan dapat menaikkan kesejahteraan ribuan petani tebu di Kabupaten
Blora, namun justru nasib mereka kini semakin tidak jelas.
Bahkan petani
menuding PG GMM dinilai mengingkari janji dan komitmennya saat awal pendirian
PG. Sebab kini pabrik gula tersebut berhenti giling dan belum membeli tebu milik petani. Akibatnya, ribuan hektare tanaman tebu
milik petani tidak jelas nasibnya.
Kondisi tersebut juga diakui oleh
Dirut Utama PG GMM Blora, Kamajaya, saat mengisi acara sosialisasi Bantuan
Sosial (Bansos) di Pendopo Kabupaten Blora belum lama ini. ”Tercatat ada
sekitar dua ribu hektare lebih lahan tebu yang belum ditebang,” ujar Kamajaya.
Kamajaya mengatakan permasalahannya bukan PG tidak mau
membeli tebu petani. Namun ada sedikit masalah teknis pada operasional mesin
boiler atau ketel uap milik PG GMM yang memerlukan perbaikan. Untuk diketahui
mesin boiler PG GMM sebanyak dua unit, namun hingga kini yang dioperasikan PG
GMM hanya satu unit dan parahnya lagi kini tidak bisa beroperasional.
“Untuk
tahun pertama saya masih dapat memaklumi apabila dalam proses penggilingan
masih tersendat masalah mesin kami,” terangnya.
Namun Kamajaya meyakini mesin yang dimiliki PG GMM
dapat dioperasionalkan secara normal pada tahun depan. Pihaknya berjanji kepada
para petani tebu hingga batang terakhir tebu di Kabupaten Blora akan diterima
dan digiling dalam mesin PG GMM.
”Ada sekitar 1.600 komponen yang saling
terhubung dalam mesin pabrik. Karena banyaknya komponen itu, perlu waktu lama
untuk memperbaikinya,” jelas dia.
Kamajaya juga menjanjikan pabrik bisa beroperasi
kembali sekitar tanggal 24-25 September mendatang. Bahkan, pabrik siap menerima
tebu milik petani Blora.
Sementara itu, Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat
Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora Anton Sudibyo mengaku mempunyai lahan tebu
seluas sekitar 40 hektare juga mengaku belum ditebang. Meski secara teknis tebu-tebu miliknya sudah siap
ditebang, namun jika tidak segera ditebang akan menurunkan kualitas tebu
tersebut.
Sehingga, kata Sudibyo, jika tidak segera dijual
rendemennya akan turun. Rendemen turun juga akan merugikan petani. Sebab, dari
rendemen tebu itulah keuntungan petani bisa didapat. “Tapi, saya masih akan
menunggu PG Blora giling kembali, dan benar-benar membeli tebu milik petani,”
terang Anton.
Sebab, Anton masih berpegang teguh pada janji dari
Dirut PG GMM Kamadjaya sebagai pemilik pabrik gula Kamadjaya bahwa selama tebu
petani masih berdiri alias belum ditebang, maka semua akan dibeli.
Pabrik
tersebut juga akan tetap memberi batasan rendemen delapan persen. Karena
itulah, ia dan petani tebu lainnya masih mau bersabar. ”Tapi, kalau janji itu
tidak ditepati, kami akan protes dan berontak pada pabrik gula. Sebab, mereka sudah
memberikan janji manis yang tidak semanis tebu,” tegasnya.
Diketahui, untuk kali kesekian mesin milik PG Blora
yang dikelola PT GMM kembali berhenti beroperasi. Akibatnya, proses giling
tersendat dan berhenti total. Kali ini, masalah terjadi pada bagian boiler atau
ketel uap pabrik, sehingga tak bisa produksi. Padahal, petani sudah berharap
mesin bisa normal, dan pabrik giling kembali. (Feb-Patiekspres | Jo-infoblora)
0 komentar:
Posting Komentar