| Bupati dan Wakil Bupati memimpin rapat Program Penanggulangan Kemiskinan di Bappeda Blora dengan sasaran 16 desa prioritas. (foto: rs-infoblora) |
Dalam
rapat koordinasi Pronangkis di Bappeda Blora, Senin (18/4) lalu dihadirkan seluruh
Camat dan 16 kepala desa (kades) dari desa pilot project prioritas yang menjadi
sasaran penanggulangan kemiskinan. Masing-masing kepala desa memaparkan
permasalahan pembangunan yang dihadapi desanya di hadapan Bupati dan Wakil
Bupati.
Bupati
H.Djoko Nugroho pun langsung meresponnya agar semua Dinas/SKPD terkait mencatat
dan memrogramkan pemecahan permasalahan yang disampaikan oleh 16 kepala desa
tersebut.
“Kepada
seluruh dinas/SKPD terkait saya minta dengarkan semua pemaparan kades, catat
agar bisa merumuskan langkah penanggulangan permasalahan desa yang diutarakan.
Saya ingin semua permasalahan kemiskinan yang dihadapi desa bisa dikeroyok
bersama-sama dari berbagai bidang,” tegas Bupati.
Adapun
rincian permasalahan sebagai fokus pembangunan di 16 desa pilot project
proritas yang berhasil dihimpun Info Blora adalah sebagai berikut.
Yang
pertama adalah Desa Nglebak Kecamatan Kradenan. Desa yang berada di ujung
selatan Kabupaten Blora ini masih gelap karena ada 125 KK yang belum teraliri
jaringan listrik, tepatnya di Dukuh Ngandong. Selain listrik, Nglebak juga
mengeluhkan tidak terjangkaunya signal seluler sebagai penunjang kelancaran
komunikasi.
Di
bidang pertanian, desa Nglebak memiliki 10 kelompok tani (poktan) namun baru 1
poktan yang memiliki traktor sehingga mengajukan tambahan traktor. Bidang
kesehatan mengajukan pengadaan jamban umum, mengingat banyak warga yang masih
BAB di sungai Bengawan Solo. Bidang Pendidikan meminta pembangunan gedung
sekolah satu atap. Infrastruktur jalan juga menjadi prioritas yang diajukan
untuk diperbaiki.
Yang
kedua adalah Desa Gempol Kecamatan Jati. Desa ini juga mengajukan perbaikan
jalan antar dukuhan dan penambahan bantuan traktor untuk kelompok tani
penggarap sawah. Keterbatasan tenaga pendidikan di SDN Selogender juga
dikeluhkan, agar diberikan tambahan tenaga guru. Banyaknya perajin bonggol jati
di Desa Gempol diusulkan untuk pengadaan bantuan alat pertukangan dan bantuan
modal.
Yang
ketiga adalah Desa Bodeh Kecamatan Randublatung. Hampir sama dengan Desa
Nglebak Kecamatan Kradenan, desa di ujung selatan Randublatung ini mengajukan
bantuan pendirian tower komunikasi karena jaringan signal masih terbatas.
Dikenal sebagai desa penghasil ketela namun sering mengalami kekeringan
sehingga ingin dibangunkan embung dan pengadaan sumur lapang. Selain itu juga
pembangunan jalan desa sepanjang 2 km menuju Bodeh.
Yang
keempat adalah Desa Kedungtuban Kecamatan Kedungtuban. Desa ini mengalami
permasalahan di bidang pertanian dan tenaga kerja. Bidang pertanian sering
mengalami kekeringan sehingga meminta Pemkab untuk melakukan pengerukan
bendungan kali Glandangan agar kapasitas tampungan air meningkat. Sering
terjadinya banjir di Dukuh Pucung membuat pihak desa mengajukan pembangunan
tanggul Kali Glandangan. Perluasan jaringan listrik juga diajukan mengingat 90
KK di Dukuh kaliputat belum teraliri listrik, begitu juga dengan jalan desa.
Yang
kelima adalah Desa Botoreco Kecamatan Kunduran. Jeleknya jalan antar dukuhan
dikeluhkan oleh Kepala Desa di hadapan Bupati agar segera diperbaiki. Desa di
ujung selatan Kunduran ini memiliki 13 poktan yang baru memiliki 4 traktor,
sehingga mengajukan penambahan bantuan traktor. Perbaikan jalan usaha tani
(JUT) juga diajukan.
Yang
keenam adalah Desa Bogorejo Kecamatan Japah. Pihak desa meminta pembangunan
sumur lapang di areal persawahan untuk pengairan agar produktifitas pertanian
meningkat. Selain itu juga meminta pembangunan jembatan menuju areal persawahan
yang hingga kini masih terbuat dari batang pohon kelapa. Pembangunan saluran
air bersih Pamsimas serta pengadaan jamban bagi warga tidak mampu sebanyak 123
unit.
Yang
ketujuh adalah Desa Pelemsengir Kecamatan Todanan. Desa di ujung barat Todanan
ini dikenal dengan penghasil kacang mete memerlukan bantuan alat pengupas mete.
Ada 75 kelompok tani kacang mete yang berada di Dukuh Watulawang. Pengajuan
perbaikan jalan antar pedukuhan juga diajukan, begitu juga dengan pembangunan
gedung PAUD dan pengadaan bantuan traktor pertanian.
Yang
kedelapan adalah Desa Biting Kecamatan Sambong. Banyak warga Desa Biting yang
bekerja sebagai buruh ternak, pemelihara sapi dan kambing milik warga Cepu.
Kades setempat meminta Pemkab untuk bisa memberikan bantuan ternak agar bisa
mengembangkan peternakan di Desa Biting, bukan menjadi buruh ternak lagi.
Selain itu juga pengajuan bantuan untuk rumah tidak layak huni sebanyak 29
rumah. Permodalan usaha kecil dan pengadaan bibit pisang untuk perkebunan.
Yang
kesembilan adalah Desa Gempolrejo Kecamatan Tunjungan. Infrastruktur jalan jadi
perhatian utama desa ini karena penghubung antar dukuh banyak yang rusak.
Pembangunan jalan usaha tani (JUT), pembangunan lapangan olahraga dan
jambanisasi untuk 130 rumah.
Yang
kesepuluh Desa Ketringan Kecamatan Jiken. Desa ini mengajukan pembangunan jalan
lingkar desa yang selama ini dalam kondisi rusak dan pembangunan jalan poros
Ketringan-Bogorejo. PAUD yang selama ini masih menyatu dengan gedung SD juga
dimintakan untuk dibangunkan gedung sendiri. Selain itu mengusulkan pembangunan
JUT, pengadaan bantuan traktor untuk 11 poktan, dan rehab pasar tradisional.
Kesebelas
adalah Desa Kawengan Kecamatan Jepon, mengajukan bantuan traktor untuk 8
poktan. Pengadaan bibit buah-buahan untuk pemanfaatan lahan pekarangan,
pembangunan jalan desa dan saluran drainase. Pelatihan membatik untuk ibu-ibu
agar bisa menumbuhkan ekonomi desa serta pembangunan Gedung PAUD - Polindes.
Keduabelas
adalah Desa Jepangrejo Kecamatan Blora Kota. Mengajukan pengembangan teknoligi
peternakan, dimana desa ini banyak peternak sapi lokal. Pembangunan kios
pertokoan desa untuk membuka kesempatan masyarakat bergerak di bidang
perdagangan. Pengadaan bantuan traktor untuk 11 poktan, pelatihan pemanfaatan
lahan pekarangan. Kemudian pipanisasi air bersih dari hutan menuju desa dan
pembangunan jalan Jasem-Gosten yang longsor.
Ketigabelas
adalah Desa Sidomulyo Kecamatan Banjarejo yang mengajukan perbaikan jalan
Mojowetan-Sidomulyo. Bantuan alat pertanian untuk 6 poktan dan izin pemanfaatan
lahan hutan untuk penanaman palawija di Dukuh Jurangjero. Pengembangan wisata
Waduk Jurangjero, serta usulan pembangunan gedung PAUD.
Keempatbelas
adalah Desa Cabean Kecamatan Cepu yang mengajukan perbaikan jalan antar dukuh
hingga tembus Desa Tanjung Kecamatan Kedungtuban. Pembinaan kelompok tani dan
pengajuan bantuan traktor untuk 9 poktan, mengingat desa ini adalah salah satu
lumbung beras di Kabupaten Blora.
Kelimabelas
adalah Desa Srigading Kecamatan Ngawen yang mengajukan perbaikan jalan desa,
pembangunan jembatan Tegalrejo, pengadaan bibit buah-buahan dan rehab RLTH
sebanyak 38 KK. Selain itu pembangunan talud jalan Plosorejo-Srigading, serta
pengajuan bantuan traktor untuk kelompok tani.
Terakhir
keenambelas adalah Desa Nglengkir Kecamatan Bogorejo yang mengajukan perbaikan
jalan Nglengkir-Jurangjero sepanjang 2,7 km. Jalan Nglengkir menuju Juwet
sepanjang 2 km, bantuan alat perbengkelan, pelatihan tukang kayu dan bantuan
traktor untuk 13 poktan.
“Saya
minta semuanya dirangkum dan disusun program penanganannya oleh masing-masing
dinas terkait. Untuk pekerjaan fisik sebisa mungkin laksanakan dengan program
padat karya, berdayakan warga desa agar bisa ikut menikmati proses pembangunan.
Jangan diserahkan pihak kontraktor,” lanjut Bupati.
(berita sebelumnya : Pemkab Tetapkan 16 Desa Tertinggal Jadi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan)
(berita sebelumnya : Pemkab Tetapkan 16 Desa Tertinggal Jadi Prioritas Penanggulangan Kemiskinan)
Menurutnya
jika pengentasan kemiskinan 16 desa di 16 kecamatan yang disebutkan diatas
berhasil, maka kedepan desa-desa yang lain akan dilaksanakan berkelanjutan.
Seluruh dinas instansi diharap kompak menangani permasalahan yang ada di desa.
Penyusunan APBD dan APBDes perlu diselaraskan. (jo-infoblora)

0 komentar:
Posting Komentar