| Pola tanam silin dengan cara tumpangsari antara tegakan pohon jati dengan tanaman palawija jagung yang dilakukan anggota Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wana Bersemi. (rs-infoblora) |
"Kami ajak masyarakat Desa Gembol yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) untuk memanfaatkan lahan di kawasan hutan dengan menanam tanaman palawija jagung. Secara teknis pola tanam silin ini harus ditumpangsari. Jadi ada dua kepentingan yang menyatu antara Perhutani dengan masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang sama," ujar kepala KPH Kuwojo, Radi yang didampingi mandor tanam, Puji, kemarin.
Ia jelaskan, di lahan seluas 18,1 hektare itu tanaman pokok jati dengan pola tanam silin bisa diaplikasikan dengan baik. Sementara tanaman jagung yang ditanam warga di bawahnya juga bisa menghasilkan panen yang memuaskan.
Tanaman jati yang ada di petak tersebut rata-rata memiliki tinggi 5 meter atau lebih, karena baru berumur kurang dari 10 tahun. Tetapi juga ada yang lebih dari 10 tahun. Pohon jati itu berpadu dengan tanaman tumpangsari palawija jagung milik warga Desa Gembol.
Menurutnya, para penggarap lahan hutan tetap bisa bercocok tanam tumpangsari di sela-sela tegakan pohon jati. Sedangkan di sisi lain, tanaman jati yang ditanam Perhutani tetap tumbuh dan terjaga dengan baik.
Menurutnya penjelasan kepada para penggarap lahan sudah dijelaskan beberapa kali, tujuannya agar mereka mengerti bahwa menanam jati dan palawija itu sama-sama penting. Perhutani memberikan pengertian kepada mereka bahwa jika tanaman palawija yang ditanam bisa tumbuh dengan baik, maka jati yang ditanam juga harus tumbuh dengan baik.
"Karena keduanya berada di dalam lokasi yang sama dan alhamdulillah mereka bisa menerima apa yang kami sampaikan tersebut," ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pola tanam silin adalah ilmu dan seni membangun dan memelihara hutan dengan pengetahuan dasar silvika. Silvika adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari sifat-sifat ekologi individu pohon.
Silvika menjadi landasan bagi tindakan silvikultur terhadap hutan. Tindakan silvikultur tersebut dengan harapan hutan yang bersangkutan agar dapat memenuhi tujuan khusus yang telah dirancang dan disepakati untuk dilaksanakan.
Dalam merancang tindakan silvikultur, ahli silvikultur mempertimbangkan atribut ekologi, ekonomi, sosial dan administrasi serta manfaat yang ingin dicapai agar hutan berfungsi secara lestari dan optimal. Silvikultur juga sering disebut sebagai ekologi terapan. Penamaan tersebut atas dasar bahwa tindakan silvikultur merupakan perwujudan pengelolaan ekosistem.
Sehingga dengan kaitan ini dapat dimengerti bila tindakan silvikultur berkaitan dengan upaya pengendalian struktur, komposisi, pertumbuhan species target untuk meningkatkan manfaat hutan. Dikemukakannya tindakan silvikultur dilakukan untuk meningkatkan produktifitas hutan. Sehingga hutan yang produktifitasnya rendah bisa semakin produktif.
Seksi tanaman pada LMDH Wana Bersemi, Siman membenarkan bahwa anggotanya memang banyak yang menjadi petani penggarap lahan hutan milik Perhutani. Rata-rata komoditi yang disukai adalah jagung. "Rata-rata hasil jagung sekitar 7-8 ton pipilan basah per satu hektare lahan," ungkap Siman.
Para penggarap lahan pun tidak perlu memasarkan hasil jagungnya terlalu jauh, karena para pembeli sudah datang ke tempat tanaman dengan membawa alat pemipil jagung dengan armadanya. Dengan asumsi harga jagung per kilogram nya Rp 1700, maka disetiap satu hektare lahan bisa menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp 9.600.000. Setelah dipotong biaya produksi, rata-rata pendapatan yang diperoleh sekitar Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. "Lumayan besar untuk pertanian di wilayah hutan," pungkasnya. (rs-infoblora | abdul muiz)

0 komentar:
Posting Komentar