INFOBLORA.ID - Aktivitas penumpang di Terminal Bus Tipe B Gagak Rimang, Kabupaten Blora, masih tergolong rendah. Sebagian penumpang angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) justru lebih memilih naik dan turun bus di kawasan eks Stasiun Kereta Api Blora.
Kondisi tersebut membuat aktivitas bus AKDP di terminal yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu belum berjalan maksimal.
Kepala Balai Pengelola Sarana dan Prasarana Perhubungan (BPSPP) Wilayah II Pati, UPT Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah, Bangun Adi, mengatakan jumlah penumpang AKDP yang menggunakan Terminal Gagak Rimang masih sangat terbatas.
Dalam sehari, jumlah penumpang yang naik maupun turun di terminal tersebut hanya berkisar tiga hingga delapan orang.
Menurut Bangun, sebagian besar penumpang masih terbiasa menunggu bus di kawasan pusat Kota Blora, terutama di sekitar eks Stasiun Lama. Kebiasaan tersebut kemudian membuat pengemudi bus ikut memilih lokasi tersebut untuk mencari dan menunggu penumpang.
“Para penumpang AKDP lebih memilih naik dan turun di Blora Kota atau Stasiun Lama. Kami sudah menyampaikan kepada pengusaha AKDP, namun para pengemudi bus AKDP lebih memilih di Stasiun Lama karena penumpang ada di sana,” ungkapnya.
Saat ini, terdapat dua trayek AKDP yang tercatat masuk ke Terminal Gagak Rimang, yakni Blora-Rembang dan Blora-Purwodadi-Solo. Namun, operasional trayek Blora-Purwodadi-Solo disebut sudah tidak sesering sebelumnya.
Berdasarkan data hingga 28 September 2026, sebanyak 989 bus AKDP tercatat masuk ke Terminal Gagak Rimang. Armada tersebut memiliki kapasitas total hingga 99.057 kursi.
Namun, jumlah penumpang yang tercatat menggunakan layanan AKDP di terminal tersebut hanya mencapai 2.586 orang, atau sekitar 2,6 persen dari total kapasitas kursi.
“Untuk yang Blora-Purwodadi-Solo sudah jarang,” beber Bangun.
PENUMPANG AKAP LEBIH BANYAK
Kondisi berbeda terlihat pada angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP). Sepanjang 2026, jumlah bus AKAP yang tercatat masuk ke Terminal Gagak Rimang lebih banyak dibandingkan bus AKDP.
Tercatat sebanyak 3.698 bus AKAP masuk ke terminal dengan kapasitas keseluruhan mencapai 133.312 kursi.
Dari kapasitas tersebut, jumlah penumpang yang tercatat menggunakan layanan AKAP mencapai 7.519 orang, atau sekitar 5,64 persen.
Bangun menyebut jumlah penumpang AKAP masih dapat mencapai sekitar 50 orang setiap hari. Sebagian besar merupakan masyarakat yang hendak melakukan perjalanan ke luar daerah.
Menurutnya, salah satu faktor yang membuat layanan AKAP masih memiliki penumpang di terminal adalah bus AKAP tidak biasa menunggu penumpang atau ngetem di kawasan eks Stasiun Lama.
Kondisi tersebut membuat masyarakat yang hendak bepergian menggunakan bus AKAP masih mengandalkan Terminal Gagak Rimang sebagai titik keberangkatan.
ANGKUDES JUGA BELUM TERINTEGRASI
Persoalan lain yang turut memengaruhi aktivitas terminal adalah angkutan pedesaan atau angkudes yang belum terintegrasi dengan Terminal Gagak Rimang.
Angkutan tersebut lebih banyak berhenti dan mencari penumpang di kawasan eks Stasiun Lama.
“Angkudes di Blora juga sama, lebih suka di Stasiun Lama. Jarang masuk ke terminal,” kata Bangun.
Ia berharap masyarakat kembali memanfaatkan Terminal Gagak Rimang sebagai lokasi naik dan turun bus. Menurutnya, peningkatan aktivitas terminal juga dapat berdampak terhadap pergerakan ekonomi di kawasan sekitarnya.
“Dari naik turun penumpang dan keluar masuk bus, ekonomi di sekitar terminal dapat kembali bergerak,” harapnya.
Sementara itu, salah seorang sopir bus AKDP di Blora, Agil, mengatakan kebiasaan sopir menunggu penumpang di kawasan eks Stasiun Lama sudah berlangsung cukup lama.
Menurutnya, kawasan tersebut masih lebih dikenal masyarakat sebagai lokasi untuk menunggu bus. Karena itu, sopir memilih bertahan di sana agar dapat mengisi kursi penumpang sebelum melanjutkan perjalanan.
“Banyak penumpang yang lebih nyaman menunggu di stasiun. Angkudes juga banyak yang menurunkan penumpang di stasiun. Selama ini penumpang saya juga lebih suka turun di stasiun daripada di terminal,” bebernya.
Agil menilai eks Stasiun Lama memiliki posisi yang lebih strategis karena mudah dijangkau angkutan pedesaan maupun keluarga yang hendak menjemput penumpang.
Sebaliknya, lokasi Terminal Gagak Rimang yang relatif jauh dari pusat kota serta terbatasnya angkutan lanjutan menjadi salah satu pertimbangan penumpang.
“Angkutan dalam kota itu banyak yang di stasiun. Kalau di terminal jaraknya jauh dan tidak ada angkudes. Jadi penumpang juga bingung,” pungkasnya.


0 komentar:
Posting Komentar