INFOBLORA.ID - Memasuki puncak musim kemarau, sekitar separuh dari 78 embung yang tersebar di Kabupaten Blora mulai mengalami kondisi kritis akibat menyusutnya debit air.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Blora, Surat, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, sekitar 50 persen embung kini mulai mengering. Kondisi tersebut sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus 2026.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah embung yang menyimpan cadangan air. Air tersebut diprioritaskan untuk menjaga stabilitas konstruksi embung sehingga tidak boleh dihabiskan untuk kebutuhan penggunaan sehari-hari.
"Air yang masih tersisa harus dipertahankan agar konstruksi embung tetap stabil. Sementara embung yang sudah kering akan menunggu musim hujan untuk kembali terisi," ujar Surat.
Selain penurunan debit air, embung di Blora juga mengalami pendangkalan akibat sedimentasi yang terbawa aliran air saat musim hujan. Menurut Surat, kondisi tersebut merupakan proses yang terjadi setiap tahun.
Untuk mengatasinya, DPUPR Blora terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana maupun BBWS Bengawan Solo agar saat embung mengering dapat dilakukan normalisasi dan pengurangan sedimentasi.
Selama musim kemarau, DPUPR Blora memfokuskan kegiatan pada pemeliharaan embung, termasuk pengerukan sedimen, sehingga kapasitas tampung air dapat kembali optimal ketika musim hujan tiba.


0 komentar:
Posting Komentar