INFOBLORA.ID - Menjelang Hari Raya Idul Adha, permintaan hewan kurban dari luar daerah terus meningkat. Ratusan sapi berukuran jumbo dengan bobot hingga satu ton per ekor mulai dikirim dari Kabupaten Blora ke berbagai daerah, termasuk Jakarta Utara.
Sebagai salah satu sentra peternakan sapi terbesar di Jawa Tengah, Blora kembali menunjukkan perannya sebagai pemasok utama kebutuhan sapi kurban. Bupati Blora Arief Rohman menegaskan bahwa daerahnya menjadi penyokong utama kebutuhan sapi di provinsi tersebut.
“Blora merupakan pemasok nomor satu di Jawa Tengah,” ujarnya.
Salah satu peternak di Desa Beganjing, Kecamatan Japah, Muhammad Kasno, mengungkapkan bahwa tahun ini pihaknya menyiapkan sekitar 125 ekor sapi jumbo untuk dikirim ke Jakarta Utara.
Menurutnya, tingginya permintaan membuat mayoritas sapi yang dikirim memiliki bobot rata-rata mencapai satu ton. “Permintaan dari Jakarta cukup tinggi, rata-rata bobotnya satu ton,” katanya.
Kasno menjelaskan, usaha peternakan sapi yang dijalaninya telah berlangsung sekitar 15 tahun. Ia membeli sapi dari warga dalam kondisi kurus dengan harga sekitar Rp20 juta per ekor. Setelah melalui proses penggemukan selama 9 bulan hingga dua tahun, sapi tersebut dapat dijual hingga mencapai Rp90 juta per ekor.
“Awalnya bobotnya kecil, kemudian kami pelihara hingga bisa mencapai lebih dari satu ton,” jelasnya.
Dalam proses pemeliharaan, sapi diberi pakan dua kali sehari dengan komposisi katul, konsentrat, rumput, dan jerami. Ia menegaskan tidak menggunakan ampas tahu karena dinilai dapat memengaruhi kualitas daging.
“Kami tidak pakai ampas tahu karena dagingnya kurang padat,” tambahnya.
Meski prospeknya menjanjikan, usaha peternakan sapi juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sempat menimbulkan kerugian besar bagi peternak.
“Saya pernah rugi, sampai 26 ekor sapi harus dibawa pulang karena PMK,” ungkapnya.
Untuk mendukung pemasaran, Kasno juga melibatkan tim promosi, salah satunya Sugiwati, yang rutin membantu proses distribusi sapi ke luar daerah, khususnya Jakarta.
“Kami sudah terbiasa mendampingi pengiriman sapi, jadi tidak takut lagi,” ujarnya.
Sugiwati menambahkan, keterlibatannya biasanya lebih intens saat musim Idul Adha, ketika permintaan sapi meningkat tajam.
“Biasanya saya terlibat saat musim kurban saja,” pungkasnya.


0 komentar:
Posting Komentar