INFOBLORA.ID - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora menggalang donasi untuk mendukung rencana aksi damai menuntut kepastian operasional Pabrik Gula PT Gendhis Multi Manis (GMM) Bulog pada musim giling tahun 2026.
Koordinator aksi, Wahyuningsih, mengatakan penggalangan donasi telah dibuka sejak Minggu (29/3/2026) dan akan ditutup pada Kamis (2/4/2026). Donasi yang diterima berupa logistik konsumsi, bukan uang tunai.
“Per hari ini sudah terkumpul kurang lebih 200 dus air mineral dan beberapa biskuit. Donasi hanya dalam bentuk minuman dan makanan kering, kita tidak menerima uang,” jelasnya.
Menurut Wahyu, donasi tersebut berasal dari berbagai elemen masyarakat, terutama petani tebu. Bahkan, bantuan juga datang dari luar daerah.
“Kalau dari kabupaten tetangga ada, seperti dari Ngawi dan Sragen,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan konsolidasi untuk mematangkan rencana aksi damai yang akan digelar di Alun-alun Blora dalam waktu dekat.
“Saat ini yang sudah pasti ikut aksi ada sekitar 1.500 petani dari wilayah Kunduran dan Todanan. Wilayah lain masih dalam proses pendataan,” ujarnya.
Sebelumnya, APTRI Blora telah melakukan audiensi dengan Bupati Blora, Arief Rohman, guna menyampaikan hasil konsolidasi terkait janji operasional PT GMM pada musim giling 2026. Pertemuan tersebut berlangsung di kawasan Bumi Indah Flora, dekat lokasi pabrik gula di Tinapan, Kecamatan Todanan.
Ketua APTRI Blora, Sunoto, menyampaikan bahwa pihaknya menagih komitmen Direktur Utama Bulog untuk mengoperasionalkan kembali pabrik gula tersebut. Komitmen itu meliputi perbaikan dua unit boiler yang mengalami kerusakan berat serta pembenahan total manajemen internal PT GMM.
Selain itu, APTRI juga memberikan alternatif solusi jika Bulog dinilai tidak mampu mengelola pabrik.
“Jika tidak sanggup, kami meminta agar pengelolaan diserahkan kepada pihak swasta, demi keberlangsungan nasib petani tebu,” tegas Sunoto.
Rencana aksi damai ini merupakan bentuk respons atas kerugian besar yang dialami petani pada musim giling 2025. Saat itu, proses giling dihentikan secara sepihak akibat kerusakan boiler, yang menyebabkan kerugian petani mencapai sekitar Rp75 miliar.
APTRI berharap, melalui aksi damai tersebut, pemerintah dan pihak terkait dapat segera memberikan kepastian agar kejadian serupa tidak terulang dan kesejahteraan petani tebu dapat terjamin.


0 komentar:
Posting Komentar