INFOBLORA.ID - Tradisi sedekah bumi di Desa Jiken, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Tradisi yang dikenal dengan sebutan sawuran ini sukses menyedot perhatian masyarakat setempat.
Seperti sedekah bumi pada umumnya, warga menyiapkan gunungan berisi hasil pertanian serta nasi berkatan yang dibungkus daun jati (godong jati). Gunungan tersebut kemudian dipikul dan diarak keliling kampung.
Arak-arakan semakin semarak dengan iringan kesenian Barongan khas Blora, serta diikuti oleh ratusan warga yang turut memadati sepanjang rute. Rombongan kemudian berhenti di bawah pohon besar di Lapangan Desa Jiken.
Setibanya di lokasi, gunungan diletakkan di tempat yang telah disediakan dan langsung dikerumuni warga. Acara dilanjutkan dengan doa yang dipimpin sesepuh setempat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
Namun, suasana mulai memanas ketika doa berlangsung. Sejumlah warga terlihat sudah tidak sabar untuk mengambil isi gunungan. Bahkan, sesepuh beberapa kali mengingatkan agar warga menunggu hingga doa selesai.
Begitu doa usai dipanjatkan, warga langsung berebut gunungan. Uniknya, dalam tradisi sawuran, nasi berkatan dan hasil bumi yang didapat tidak hanya dibawa pulang, tetapi juga dilempar ke warga lain.
Tawa, teriakan, dan keceriaan pun pecah di tengah lapangan. Warga tampak menikmati tradisi lempar-lemparan tersebut hingga nasi dan hasil pertanian berhamburan di berbagai sudut.
Ketua Panitia Sedekah Bumi, Muhammad Ngatmin, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas berkah yang diberikan.
“Dilaksanakan setahun sekali habis panen. Ini Alhamdulillah bersyukur sama Allah dikasih sehat, panjang umur, dan panen melimpah. Merasa senang bahagia, jadinya bersyukur,” ujarnya.
Ia menambahkan, isi gunungan berasal dari hasil bumi petani, mulai dari nasi berkatan, jajanan, hingga buah-buahan.
“Yang jelas hasil bumi petani,” bebernya.
Menurut Ngatmin, yang membedakan tradisi di Desa Jiken dengan daerah lain adalah adanya sawuran, yakni tradisi lempar-lemparan yang menjadi bagian wajib dalam perayaan.
“Memang tradisi sawuran ini harus. Tidak bisa kalau tidak lempar-lemparan,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu warga, Enjel, mengaku selalu menantikan tradisi tersebut setiap tahun karena dinilai unik dan menghibur.
“Karena ada barongan dan lempar-lemparannya,” katanya.
Meski demikian, ia memilih hanya menonton dan tidak ikut berebut gunungan karena khawatir berdesakan.
“Senang lihat saja, tapi tidak ikut ngeroyok dan lempar. Takut keinjak-injak,” pungkasnya.


0 komentar:
Posting Komentar