![]() |
| Joko (47) mengantarkan warga Desa Medalem Kecamatan Kradenan menyeberangi Bengawan Solo dengan perahu seadanya menuju Kecamatan Ngraho Bojonegoro, kemarin. |
BLORA. Sampai saat ini warga Kecamatan Kradenan yang berada di ujung
selatan Kabupaten Blora masih menginginkan adanya pembangunan jembatan untuk
menuju wilayah Kecamatan Ngraho Kabupaten Bojonegoro Jatim. Dua wilayah yang
berbeda provinsi ini terpisahkan oleh sungai Bengawan Solo.
Banyak warga dari
kedua wilayah tersebut sehari-harinya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi
diharuskan menyeberangi sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut hanya dengan
perahu yang minim peralatan keamanan. Baik dari wilayah Kradenan maupun Ngraho
sama-sama padat lalu lintas penyeberangannya.
Seperti yang dialami
Sundari (45) warga Dukuh Jambi Desa Medalem Kecamatan Kradenan Blora yang
setiap hari menyeberang untuk menuju ladang miliknya di sebrang Bengawan
Solo. “Saya dan suami berangkat pagi pulang sore untuk memenuhi kebutuhan
keluarga, karena ladang milik kami ada di sebrang sungai. Kalau arus deras
terpaksa bermalam disana, takut kalau tenggelam mas,” kata Sundari, kemarin.
Tidak hanya Sundari,
puluhan pedagang dan warga lainnya juga setiap hari hanya mengandalkan perahu
untuk menuju sebrang dan sebaliknya. Diantaranya adalah para pedagang dari
Kecamatan Ngraho yang hendak berjualan di Pasar Kradenan. Juhartono (37) warga
Desa Ngidung Kecamatan Ngraho mengaku setiap hari ke Kradenan untuk berjualan ke
pasar.
![]() |
| Beberapa pedagang dari Pasar Menden Kradenan menyebrang Bengawan Solo menggunakan perahu untuk pulang ke Ngraho Bojonegoro. |
Hal senada juga
diungkapkan Andi Winata (31) warga Dukuh Bapangan Desa Mendenrejo Kecamatan
Kradenan. “Kami sudah lama menginginkan adanya pembangunan jembatan disini.
Kami yang hidup di perbatasan minim akses menuju wilayah seberang. Terutama
jika ada keperluan di wilayah Bojonegoro dan Ngawi harus memutar jauh lebih
dari 40 km lewat Cepu hanya karena tidak adanya jembatan. Akhirnya warga secara
swadaya membuat jasa penyeberangan Bengawan Solo seadanya,” jelasnya.
Sementara itu, Joko
(47) pengemudi perahu yang melayani jasa penyeberangan di Bengawan Solo dari
Desa Medalem Kradenan menuju Kecamatan Ngraho Bojonegoro mengungkapkan, setiap
hari perahunya bisa sampai 20 kali menyeberang untuk mengantar warga. “Sekali nyebrang
bisa mengangkut maksimal 15 motor plus penumpangnya. Kalau arus deras seperti
saat musim hujan seperti ini ya harus hati-hati mas, karena kita gak pake
pelampung. Takut perahu terbalik,” kata Joko.
Tidak Ada Tanggapan
Kepala Desa Medalem
Kecamatan Kradenan, Anik Juarti menjelaskan bahwa keinginan warga setempat
untuk mempunyai jembatan di Bengawan Solo sebenarnya sudah sejak puluhan tahun
lalu. “Dari saya kecil sampai saya kini menjadi kepala desa, keinginan adanya
pembangunan jembatan terus disuarakan warga. Namun sampai saat ini belum ada
tanggapan positif dari pemerintah baik Kabupaten ataupun Provinsi,” jelasnya.
“Sudah banyak juga
media yang memberitakan keinginan warga disini. Beberapa kali pihak desa juga
mengusulkan dalam musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). Namun ya seperti
ini belum ada tanggapan dari yang mempunyai wewenang (pemerintah-red),”
tambahnya.
Dia berharap ada kerjasama antara Pemkab Blora dengan Pemkab Bojonegoro untuk mewujudkan jembatan penungjang ekonomi warga perbatasan. “Ini kan menghubungkan dua kabupaten di dua provinsi berbeda, seharusnya pemerintah di kedua wilayah tersebut duduk bersama untuk memecahkan bagaimana caranya agar wilayah perbatasan seperti ini tidak minim akses infrastruktur sehingga perekonomiannya bisa tumbuh pesat,” pintanya. (rs-infoblora)
Dia berharap ada kerjasama antara Pemkab Blora dengan Pemkab Bojonegoro untuk mewujudkan jembatan penungjang ekonomi warga perbatasan. “Ini kan menghubungkan dua kabupaten di dua provinsi berbeda, seharusnya pemerintah di kedua wilayah tersebut duduk bersama untuk memecahkan bagaimana caranya agar wilayah perbatasan seperti ini tidak minim akses infrastruktur sehingga perekonomiannya bisa tumbuh pesat,” pintanya. (rs-infoblora)



0 komentar:
Posting Komentar