![]() |
| Seorang penyalur gas elpiji melon sedang menurunkan muatan di Kecamatan Todanan, kemarin. |
Supariyem (50) seorang ibu rumah tangga warga Desa
Ketileng Kecamatan Todanan mengungkapkan bahwa harga elpiji melon di warung
sekitar rumahnya masih dijual kisaran Rp 17.000,- hingga Rp 19.000,-. “Orang
desa tidak begitu paham dengan HET mas, tidak ada sosialisasi. Kita beli ke
pengecer seharga Rp 17.000,-, tapi kalau diantar oleh pengecer sampe rumah yang
biasanya mereka keliling menggunakan motor itu harganya bisa sampai Rp
19.000,-,” jelasnya.
Sementara itu Sri Watini (29) warga Todanan juga menceritakan
mahalnya harga elpiji 3 kilogram di pedesaan. “Kita butuhnya masak mas, harga
berapapun terpaksa dibeli karena memang butuh. Walaupun merasa keberatan dengan
harga yang lebih mahal dari HET. Keadaan seperti ini sudah terjadi beberapa
bulan terakhir. Apa mungkin jarak dari pangkalan ke desa kami teralu jauh sehingga
butuh biaya transport, saya juga tidak tahu,” ungkapnya.
“Warga setempat menginginkan sebisa mungkin harga elpiji
3 kilogram tidak dijual diatas HET yang telah ditetapkan pemerintah. Ketetapan
HET tentunya juga sudah memperhitungkan keuntungan bagi distributor, pangkalan
dan pengecer,” pintanya.
Dihubungi terpisah, salah seorang pemilik pangkalan gas elpiji
tiga kilogram, Yulianto (45) menjelaskan, dari Pertamina untuk wilayah Kabupaten Blora telah
dipatok HET maksimal Rp 16.000,- per
tabung. Dengan
harga tersebut, baik pangkalan atau agen maupun pengecer sudah mendapatkan
keuntungan.
“Harga dari pangkalan Rp 14.000,-, kami sudah mendapatkan untung Rp 300 per tabung. Dari pengecer ke penjual umumnya Rp 15.000,-, kalo ada
yang menjual di atas HET tentu itu sangat memberatkan para pengguna”
jelasnya
Yulianto juga menambahkan, dari harga yang
ada itu pengecer sudah untung sebesar Rp 800 per tabung. “Bila di jual dengan HET pengecer sudah untung, sehingga saya harapkan
pengecer jangan sampai menjual harga melebihi HET,” harapnya. (Tio-infoblora)


0 komentar:
Posting Komentar