Home » , » Festival Tayub Nusantara Wujud Pelestarian Seni Budaya Blora

Festival Tayub Nusantara Wujud Pelestarian Seni Budaya Blora

infoblora.id on 4 Nov 2013 | 23.51

Penari Tayub Ledhek Barangan khas Blora saat tampil membuka Festival Tayub Nusantara di Alun-alun Blora, Sabtu (2/11) tampak atraktif dan menarik perhatian penonton. (foto : rs-infoblora)
BLORA. Pagelaran Festival Tayub Nusantara 2013 yang diadakan Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI) Blora selama dua hari (1-2 November 2013) berlangsung meriah.

Pasalnya, selain Tayub khas Blora, panitia juga menghadirkan kesenian tari yang masih serupa dengan tayub dari berbagai daerah. Seperti Jaipongan dari Bandung dan Sumedang, Lengger dari Banyumas serta Tari Gandrung dari Banyuwangi Jawa Timur.

Tak hayal penampilan para seniman tari tersebut mampu memuaskan masyarakat Blora yang malam itu memadati kawasan Alun-alun. Bagi masyarakat Blora, tayub sudah merupakan tradisi kesenian rakyat yang turun-temurun sejak jaman Kerajaan Majapahit. Hingga saat ini masih banyak masyarakat yang sering menampilkan tayub saat menggelar pesta hajatan dan berbagai acara syukuran.

Tayub juga juga telah menjadi ritus kesuburn bagi masyarakat Blora, sekaligus ritus kemolekan tubuh penari serta penghormatan. Tayub pada mulanya merupakan ungkapan wujud syukur dan ritual yang dilakukan masyarakat. Tayub adalah sebuah tarian dan ritus kesuburan, dimana perempuan penari tayub di Blora disebut dengan sebutan ledhek. Dalam setiap pementasan tayub, penari ledhek dan laki-laki saling berpasangan.

Ritus Kesuburan
Mereka menari dengan gerakan bebas yang tak berpola sehingga bebas mengembangkan kemampuan masing-masing dalam menari. Keintiman sebagai pasangan dalam menari sangat jelas menunjukkan kesan gambaran ritus kesuburan.

Memang masih ada pandangan miring yang melekat pada tayub. Terlepas dari itu semua, kini tayub telah menjelma menjadi hiburan bagi masyarakat mulai dari kelas bawah sampai kelas atas.

Di Blora, metamorfosis tayub bisa dilihat melalui tari ledhek barangan yang mulai dikenalkan seniman Blora sekitar tahun 2009 dan sekarang menjadi trend tersendiri untuk suatu pertunjukan, bahkan perlombaan. Ledhek barangan seakan menjadi penegasan bahwa tayub dan ledhek bukan identik dengan hal yang negatif.

Bupati Blora, Djoko Nugroho menegaskan, digelarnya Festival Tayub Nusantara akan lebih menggairahkan kehidupan seni tayub sebagai salah satu kesenian khas Kabupaten Blora, serta menumbuh kembangkan budaya kerjasama antar seniman tayub dan menjaga tradisi agar generasi muda saat ini tidak begitu saja meninggalkan tayub sebagai kearifan lokal Blora di bidang seni.

Adapun Kepala DPPKKI Blora, Slamet Pamuji mengemukakan penyelenggaraan Festival Tayub Nusantara digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Blora yang ke 264 pada Desember nanti sekaligus untuk mengenalkan budaya seni khas Blora dan menjadi ajang kepiawaian para seniman yang mengikuti festival.  

Beberapa foto dokumentasi Festival Tayub Nusantara :

Tayub Blora versi Ledhek Barangan Jawa Tengah (foto: rs-infoblora)

Tayub versi Gandrung Banyuwangi Jawa Timur (foto: rs-infoblora)

Tayub versi Jaipongan bandung Jawa Barat (foto: rs-infoblora)


(rs-infoblora | kontributor : Sugie Rusyono)


Share this article :

0 komentar:

 
Copyright © 2013. infoblora.id - All Rights Reserved