![]() |
| Geliat industri gas di Blok Gundih Kec.Kradenan Blora. (ali-infoblora) |
BLORA. Suara gemuruh mesin pengolahan gas di Proyek Pengembangan Gas Jawa
(PPGJ), Blok Gundih memecah keheningan Desa Sumber, Kecamatan Kradenan,
Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Lampu mercury menyala terang disekitar
Central Processing Plan (CPP) atau Kilang Pengolahan Gas.
Desa
Sumber yang beberapa tahun lalu sepi, kini menjelama menjadi desa
industri. Lalu lalang kendaraan proyek dan pekerja berseragam khas
perusahaan migas lengkap dengan safety tak henti melintas di
perkampungan itu.
Hadirnya industri gas di Desa Sumber itu telah
membawa perubahan. Peluang kerja sudah banyak dinikmati warga, meskipun
belum maksimal. Pun pendapatan daerah dari dana bagi hasil gas Gundih
dipastikan akan segera diterima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora,
karena telah menjadi daerah penghasil gas.
Namun, seiring dengan
kemegahan pabrik pengolahan gas terbesar se-Asia Tenggara itu tidak
serta merta membuat para kontraktor lokal, khususnya yang bergerak di
bidang pengadaan barang dan jasa dari Desa Sumber ikut merasakan berkah
garapan project yang menggeliat sejalan dengan pembangunannya.
Kondisi itu tentu saja menjadikan para kontraktor lokal desa mati suri. Mereka tak mampu terlibat di proyek yang high cost
(padat biaya). Terlebih belum ada niatan dari operator untuk
memberdayakan kontraktor lokal dengan memberi kesempatan kepada
kontraktor lokal terlibat didalamnya.
“Sampai saat ini
kontraktortor lokal sulit terlibat,” kata Ketua Forum Komunikasi
Masyarakat Sumber (FKMS) Desa Sumber, Ria Hartono, Selasa (15/4/2014) kemarin.
Padahal, hadirnya proyek
CPP Gundih itu, telah melahirkan ekspektasi dikalangan kontraktor
lokal. Mereka berharap bakal meneguk berkah adanya industry migas di
daerahnya dengan terlibat dalam proyek sehingga dapat merubah
ekonominya. Meskipun itu hanya sebagai subkontraktor.
"Nyatanya,
CV yang didirikan dengan resmi dokumen persyaratannya sesuai klasifikasi
jenis pekerjaan itu saja juga tidak mendapatkan perkerjaan di proyek
PPGJ," tegas Ria, mengungkapkan.
Menurut Ria, ada alasan klasik
yang selalu dimunculkan manakala kontraktor lokal desa ikut menawar
pengerjaan di Konsorsium IKPT-Adhi Karya, Main Kontraktor pembangunan
proyek Gundih ini. Yakni semua kontraktor lokal desa dianggap belum
punya pengalaman dan berkompeten karena belum pernah mengerjakan jenis
pekerjaan yang ditawarkan.
"Karena alasan IKPT tidak pernah sekalipun melirik kontraktor dari Sumber untuk diberi pekerjaan," imbuhnya.
FKMS
Sumber mencata, ada 10 kontraktor lokal Sumber yang memiliki
persyaratan lengkap dibidang jasa konstruksi maupun jasa lainnya.
Seperti spesifikasi pekerjaan pengadaan solar, safety, sewa kendaraan,
dan catering. Namun jenis pekerjaan itu selalu diberikan kepada
kontraktor luar daerah.
Padahal, jika kontraktor lokal itu
diberi kesempatan terlibat di proyek CPP Gundih, dipastikan akan
mengurangi pengangguran yang ada di Desa Sumber dan sekitarnya. Sebab
sudah dapat dipastikan kontraktor lokal itu akan melibatkan tenaga kerja
lokal dari masyarakat sekitar.
"Tapi parahnya. Dalam kondisi
pengaturan pemberian pekerjaan selalu ada indikasi kuat diberikan kepada
orang-orang terdekat yang ada di dalamnya. Sehingga kontraktor lokal
desa sulit mendapatkan pekerjaan," tandas Ria.
Senada juga
disampaikan Edi Wardoyo, Pengurus Harian FKMS Sumber yang lain. Dia
mengatakan, bahwa kontraktor lokal sulit mendapatkan perkerjaan dari
IKPT secara langsung. "Kalaupun ada itupun hanya sebagai supplier. Jadi
kita hanya bisa menjadi bagian sub dari sun kontraktor saja," katanya.
Edi
menjelaskan, kondisi itu tentua saja mempersulit kondisi pengusaha
lokal desa. Dikarenakan sebagai supplier bahan material proyek tersebut
pembayarannya sangat terlambat.
"Jadi untuk mengejar limit
keuntungan dengan jangka waktu pembayaran barang yang sudah disuplai itu
saja sulit. Itulah kondisi pengusaha lokal yang hanya diposisikan
sebagai supplier saja, bukan pemegang kontrak pekerjaan," tambah Edi.
Edi
berharap kepada PT. Titis Sampurna yang selanjut sebagai pemegang
kendalinya setelah IKPT-Adhi Karya menyelesaikan kewajiban pekerjaannya
itu nantinya bisa memanfaatkan pengusaha lokal dengan memberi pekerjaan
sesuai klasifikasinya.
"Karena PT. Titis Sampurna itu akan
memegang kendali selanjutnya. Dan harus belajar banyak dari masa IKPT
yang kurang peduli terhadap kontraktor lokal desa," imbuh Edi. (rs-infoblora | ali)


3 komentar:
Para juragan desa sdh memprovokasi.
Mas redaktur jangan jadi perpanjangan tangan saja. Lebih selektif memuat berita. Biasanya orang2 ini klo dapat proyek kerjanya asal2an. Nuntutnya banyak tapi kerja asal2an.
Hal2 yang dikedepankan mustinya peluang kerja untuk warga, bukan juragan2 desa yang banyak menuntut.
Kontraktor yang professional membawa tenaga skill & akan mendidik tenaga lokal ato anak2 kita yang potensial(sekolahnya bagus).
Jadi kesempatan kerja untuk lulusan smu /smk & sarjana dari blora tersalurkan.
Bukan tuntutan juragan desa untuk kepentingan pribadinya.
Anak2 kita yang aklak & sekolahnya bagus lebih utama mendapatkan kerja.
Trims
Perlu diingat juragan desa jumlahnya segelintir/sedikit. Gaya kerja juragan desa msh dipertanyakan.
Banyak anak2 kita yang berakhlak baik & pintar dalam sekolah biasanya lahir dari keluarga tidak mampu.
Anak2 ini yang layak mendapat kerja.
Kontraktor biarkan membawa tenaga professional & merekrut anak2 blora untuk jadi professional.
Siapa yang akan kita bela juragan desa ato anak2 dari blora...
Perlu diingat: Jangan biarkan juragan2 itu memanfaatkan semangat keterlibatan lokal untuk kepentingan pribadinya. Warga yang butuh kerja lebih utama, terutama anak2 berakhlak baik & pintar.
Saat juragan2 dpt project nanti yang dipekerjakan juga kalangan keluarga juragan & klo kontraktor professional akan merekrut dengan seleksi anak2 blora dengan adil.
TRims
Posting Komentar